Dari Dipecat Dua Kali ke Punya Restoran Sukses: Kisah Bakhrani dan Nishaan yang Mengguncang Dunia Kuliner
Dipecat dua kali dari dunia korporat, Bakhrani justru menemukan new barunya di dapur restoran. Kini, ia memimpin Nishaan, tempat makan di East Village, New York City, yang menyajikan perpaduan unik antara masakan Pakistan dan Amerika. Setelah bertahun-tahun terjebak dalam rapat dan pressure manajerial, ia memilih kebebasan berkreasi—meskipun jam kerjanya kini jauh lebih panjang.
Filosofi Nishaan sederhana namun kuat: tidak ada batas dalam menggabungkan rasa. Perubahan besar terjadi ketika ide langsung bisa diwujudkan. "Di sini, saya punya ide, saya bisa menyelesaikannya dalam seminggu," katanya. Menu restoran ini terinspirasi dari masa kecilnya di Devon, tempat ia tumbuh dengan aneka masakan India, Pakistan, hingga Meksiko. Kebebasan di dapur membawanya menciptakan sandwich chapli kebab dan spageti dengan saus pedas rumahan yang kaya rempah.
Salah satu menu andalan, Pakistani chopped cheese, menjadi simbol dari perjalanan pribadinya. Daging kebab, paprika hijau, bawang bombay, dan campuran keju pepper jack-Amerika dimasak bersama, lalu disajikan dalam roti lapis dengan mayones, chutney asam jawa, dan saus jeruk nipis ketumbar. "Saya orang Pakistan, saya orang Amerika. Saya akan merangkul sebagian dari keduanya," jelas Bakhrani. Inovasi kuliner ini bukan hanya soal rasa, tapi juga identitas.
Perjalanan dari juru masak keliling hingga pemilik restoran tidak mudah. Setelah dipecat, ia sempat kembali bekerja, namun nasib membawanya ke Smorgasburg, pasar makanan populer di NYC. Di sana, ia dan dua rekan timnya memenangkan report besar: kemenangan di acara "The Great Food Truck Race" dengan hadiah US$ 50.000. Dana itu menjadi fondasi Nishaan, yang dibuka dengan biaya sekitar US$ 70.000. Dalam tiga bulan, bisnisnya menghasilkan revenue hampir dua kali lipat dari modal awal—mencapai US$ 140.000 pada November 2024. Di bulan yang sama, ia dipecat untuk kedua kalinya. Tapi kali ini, ia menyambutnya sebagai decision alam: inilah jalannya.
Bayangin, dari dipecat jadi bikin restoran yang laku keras. Risiko tinggi, tapi bayarnya besar banget.
Pernah coba Pakistani chopped cheese di NYC, rasanya gila. Paduan keju dan bumbu Pakistan bener-bener change perubahan total dari sandwich biasa.
Dua kali dipecat malah jadi berkah. Tapi jangan salah, bukan cuma keberuntungan—dia punya plan rencana dan tekad baja.
Kisah kayak gini yang bikin aku mikir ulang soal kerja kantoran. Tekanan terus, tapi hasilnya nggak sebanding.
Yang paling kagum itu keberanian buat gabungin dua budaya lewat makanan. Bukan cuma jualan, tapi juga identity identitas.
US$70.000 buat buka restoran? Di sini aja bisa buka tiga cabang. Tapi ya, pasar dan market pasar beda level kali ya.