Warteg Kekinian dan Tanda Kelas Menengah yang Semakin Terjepit
Di tengah tekanan ekonomi yang makin pressure , muncul fenomena baru di Jakarta: warteg kekinian dan restoran premium yang mengusung konsep warung Tegal. Salira, restoran dari new Union Group di Senopati, menjadi sorotan setelah kemunculannya viral di TikTok. Dengan etalase kaca, gorden vitrase, dan kerupuk kresek di meja kasir, restoran ini meniru tampilan warteg tradisional—namun dengan harga yang jauh dari murah. Sepiring nasi merah dengan lauk bebek goreng dan es teh bisa mencapai Rp147.000, sementara kelompok tiga orang bisa menghabiskan hingga Rp800.000.
Kemunculan tempat seperti Salira ternyata bukan sekadar tren kuliner, melainkan cerminan dari change sosial yang dalam. Menurut data BPS, sebanyak 9,48 juta orang dari kelas menengah telah 'turun kasta' antara 2019 dan 2024. Mandiri Institute juga mencatat penurunan 1,1 juta jiwa pada 2025. Sosiolog UI, Ida Ruwaidah, menyebut ini sebagai bentuk adaptasi: kelas menengah mencari ruang makan yang tetap nyaman untuk public , tetapi sesuai dengan kantong yang makin tight . "Mereka butuh tempat rekreatif, tapi harganya harus terjangkau," katanya.
Namun, ketika konsep ini diangkat ke level premium, muncul pertanyaan soal apropriasi budaya. Pengamat budaya Hikmat Darmawan menyebut restoran seperti Salira mengeksploitasi simbol-simbol milik kelas bawah—dari etalase kaca hingga tata letak lauk—lalu menjualnya kembali dengan harga restoran kafe. "Ini bukan warteg yang naik kelas, tapi kelas menengah yang turun," tegasnya. Repa Kustipia dari Center for Study Indonesian Food Anthropology menyebut fenomena ini sebagai bentuk gentrifikasi kuliner, di mana elemen 'merakyat' dilepaskan demi estetika dan keuntungan.
Untuk pedagang warteg tradisional, tekanan justru datang dari hal lain. Mukroni, Ketua Kowantara, mengatakan warteg fancy belum jadi ancaman besar karena segmennya berbeda: pelanggan warteg tradisional tetap para sopir, ojek online, dan pedagang asongan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah rising cost plastik kemasan dan kebijakan WFH ASN setiap Jumat. "Kami kehilangan prime time makan siang. Potensi income bisa anjlok 70%," ujarnya. Di tengah semua ini, warteg tetap menjadi ruang sosial yang vital—bukan sekadar tempat makan, tapi simbol ketahanan kelas pekerja.
Dulu makan di warteg Rp15 ribu, sekarang di tempat 'kekinian' Rp60 ribu. Bedanya cuma AC dan WiFi. price Harga naik, tapi rasa tetap tahu tempe.
Ini bukan soal makanan, tapi simbol. Kelas menengah terjepit, tapi enggak mau kehilangan gaya. Jadi cari tempat yang feel terasa eksklusif, padahal isinya sama.
Saya ojol, tiap hari makan di warteg dekat Pasar Minggu. Kalau ada yang fancy, ya kami enggak ke situ. Tapi kalau harga plastik terus naik, nanti kami yang kena.
Saya pernah ke Salira. Nyaman, Instagramable, tapi overpriced terlalu mahal untuk nasi campur. Cuma datang sekali, karena dompet langsung protes.
Ironis. Budaya perantau Tegal yang lahir dari perjuangan, kini jadi komoditas kelas atas. Apa lagi yang tersisa dari yang asli?
Media sosial bikin semua jadi trend tren instan. Tapi apakah Salira akan bertahan lima tahun lagi? Atau cuma jadi laporan viral yang cepat dilupakan?