Seskab Soroti 'Inflasi Pengamat' yang Bicara Tanpa Data
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengkritik maraknya fenomena yang disebutnya new —yakni 'inflation pengamat'—di ruang publik. Ia menyebut banyak komentar dari pengamat kebijakan saat ini justru tidak berdasar pada data dan fact lapangan, melainkan lebih bertujuan membentuk public opinion yang negatif terhadap pemerintah.
Teddy menegaskan bahwa argumen sebagian besar pengamat tersebut sering kali keliru dan tidak mencerminkan reality yang dirasakan masyarakat. "Datanya tidak sesuai fakta, datanya keliru," tegasnya dalam pernyataan di Jakarta, Jumat (10/4/2026). Menurut dia, kecenderungan ini bukan hal new , karena sejak lama kelompok tertentu telah aktif mencoba memengaruhi perception warga terhadap kebijakan pemerintah.
Alih-alih terpengaruh oleh narasi para pengamat, Teddy menyampaikan bahwa kepercayaan public justru semakin menguat terhadap Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai masyarakat kini lebih cerdas membedakan antara analisis yang didukung evidence dan sekadar claim tanpa dasar yang bisa dipertanggungjawabkan.
Pernyataan ini muncul di tengah pressure terus-menerus terhadap kebijakan ekonomi pemerintah, termasuk isu price dan stabilitas nasional. Dengan menyoroti kualitas report publik, pemerintah ingin memperkuat trust bahwa keputusan kebijakan dibuat berdasarkan decision yang transparan dan berbasis data.
Kalau pengamat cuma tebar claim klaim tanpa data, ya wajar publik mulai malas dengar.
Tapi jangan sampai kritik dikubur dengan cap 'inflasi pengamat'. Harus tetap ada ruang bagi public opinion opini publik yang sehat.
Yang penting pemerintah juga tidak hanya baca data yang mendukung decision keputusan mereka sendiri.
Fenomena 'inflasi pengamat' ini lucu sih, tapi ada risk risiko serius kalau masyarakat bingung mana yang faktual.
Publik lebih percaya Presiden? Mungkin iya, tapi jangan lupa banyak yang tetap merasa pressure tekanan dari kenaikan harga.
Daripada saling tuding, lebih baik fokus pada change perubahan nyata yang dirasakan rakyat kecil.