Kartini: Simbol Emansipasi atau Proyek Politik Soekarno?
Di balik perayaan feminism dan emancipation yang diperingati setiap tahun, ada tangan politik yang membentuk simbol Kartini seperti sekarang. Bukan kebetulan bahwa Kartini, bukan Cut Nyak Dien atau Cut Meutya, menjadi wajah perempuan Indonesia dalam kalender nasional. Menurut sejarawan historian , keputusan itu lahir dari pertimbangan politik yang matang oleh Presiden Soekarno pada 1964. Dalam Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964, Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, bersama 13 tokoh lain. Tapi mengapa Kartini yang paling menonjol?
Asvi mengungkapkan bahwa popularitas Kartini jauh melampaui dua tokoh perempuan lainnya, bahkan sejak masa penjajahan. Ia bukan hanya dikenal masyarakat, tetapi juga menjadi ikon yang digunakan oleh kelompok politik. Gerwani, organisasi perempuan pada masa itu, terang-terangan memakai nama Kartini untuk majalah mereka: publication . Kata "api" bukan pilihan sembarangan — merujuk pada pesan Soekarno sendiri bahwa revolusi bukan tentang abu, tapi tentang spirit . Dalam konteks ini, Kartini bukan sekadar pejuang pendidikan, tapi simbol yang bisa ignite semangat perubahan.
Soekarno, kata Asvi, sangat menghargai perjuangan Kartini yang dilakukan melalui tulisan dan literasi — cara yang tidak violent namun dalam pengaruhnya. Kartini dianggap mampu represent Jawa, representasi penting dalam narasi kebangsaan yang sedang dibangun. Ia juga melambangkan gerakan pencerahan, khususnya bagi perempuan, tanpa harus turun ke medan perang. Dalam dunia yang sedang reshape , sosok seperti Kartini menjadi alat yang efektif untuk menyampaikan visi nasional yang inklusif namun tetap terkendali.
Tapi pertanyaan tetap menggantung: apakah perayaan Hari Kartini hari ini masih tentang pemberdayaan perempuan, atau telah menjadi ritual kosong yang kehilangan essence ? Ketika kita memakai kebaya dan membaca kutipan Kartini, apakah kita menghidupkan api yang dimaksud Soekarno, atau hanya mengulang simbol tanpa substance ? Dalam konteks kekinian, ketika isu kekerasan seksual di kampus masih marak, perayaan simbolik tanpa langkah konkret bisa jadi hanya bentuk tokenisme yang halus. Kartini mungkin pahlawan literasi — tapi apakah kita masih mendengarkan suaranya?
Menarik, tapi apakah kita terlalu mengagungkan Kartini hanya karena dia symbol simbol yang nyaman bagi rezim?
Kartini bukan pelopor satu-satunya. Kenapa kita tidak pernah merayakan Cut Nyak Dien dengan cara yang sama?
Zaman dulu emansipasi lewat sekolah, sekarang lewat media sosial. Tapi awareness kesadaran belum tentu mengubah realitas.
Soekarno jenius memilih tokoh yang tidak mengancam, tapi tetap bisa inspire menginspirasi. Politik itu seni, bukan moral.
Hari Kartini jadi ajang pamer kebaya. Tapi soal kesetaraan upah dan keamanan perempuan? Diam total.
Tapi tetap, Kartini membuka jalan. Literasinya adalah bentuk perlawanan yang sangat berani di zamannya.
Podcast Gaspol! selalu tajam. Hari ini mereka angkat sisi lain yang jarang dibahas di sekolah.
Aku baru tahu tentang "Api Kartini". Jadi sekarang paham kenapa api itu selalu dipakai dalam retorika pergerakan.