Pezeshkian pada Macron: Eropa Harus Dorong AS Patuhi Hukum Internasional
Presiden Iran, Pezeshkian, menyampaikan pesan langsung kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron bahwa lack goodwill dari Amerika Serikat menghambat kemajuan dalam negosiasi internasional. Dalam pembicaraan telepon yang diungkap oleh kantor berita IRNA, Pezeshkian menyalahkan pendekatan maximalist Washington atas mandeknya upaya diplomasi di Islamabad pekan lalu.
Ia menekankan bahwa ancaman, pressure , dan aksi militer bukan solusi, justru memperparah apa yang disebutnya sebagai self-made yang diciptakan AS di kawasan Timur Tengah. Serangan udara baru-baru ini di Teheran menjadi latar belakang percakapan ini, menunjukkan tingginya risk eskalasi lebih lanjut jika jalur dialog tetap terbengkalai.
Diplomasi, kata Pezeshkian, adalah jalan terbaik untuk meredakan ketegangan. Ia mendorong Eropa agar berperan lebih aktif, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pihak yang dapat push AS untuk mematuhi hukum internasional. Pernyataan ini menyoroti harapan Teheran terhadap kekuatan Eropa sebagai penyeimbang kebijakan Washington yang dianggap unilateral .
Sementara itu, Qatar turut menyuarakan desakan serupa. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, al-Ansari, menegaskan bahwa fokus dunia harus tetap pada gencatan senjata, bukan solusi jangka panjang yang prematur. Dengan mengutuk serangan Israel ke Lebanon, Qatar menilai bahwa masih too early membahas isu seperti Selat Hormuz, selama pertempuran aktif masih berlangsung.
Tekanan dari luar mungkin diperlukan, tapi AS jarang mendengar kecuali ada consequence konsekuensi nyata. Apa Eropa benar-benar mau ambil risiko?
Pernah dengar 'goodwill' dari AS? Rasanya lebih sering threat ancaman yang keluar, bukan niat baik.
Diplomasi butuh dua pihak yang mau duduk. Tapi kalau satu sisi terus pakai military action aksi militer, sulit jadinya.
Qatar bilang terlalu dini bahas Selat Hormuz. Logis. Fokus dulu pada hentikan darah mengalir, bukan long-term plan rencana jangka panjang.
Risiko perang makin tinggi tiap hari. Tapi tetap saja, self-made problem masalah buatan sendiri ini terus diputar-putar seolah korban ada di pihak lain.
Haruskah Eropa jadi wasit? Atau malah ikut terjebak? Dukungan untuk hukum internasional jelas, tapi real pressure tekanan nyata itu langka.