S&P 'Interogasi' Fiskal RI, Purbaya Janji Defisit APBN Tak Melebar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bertemu langsung dengan global Standard & Poor's (S&P) di Washington DC, memanfaatkan kesempatan untuk menegaskan komitmen Indonesia menjaga defisit APBN di bawah ambang 3% dari PDB. Dalam pertemuan tersebut, S&P melakukan detailed terhadap kondisi fiskal RI, terutama soal konsistensi kebijakan anggaran di tengah tekanan eksternal.
Purbaya menyampaikan bahwa meski defisit 2026 awalnya diproyeksikan melebar ke 2,9% akibat kenaikan price minyak, angka tersebut kini diperkirakan akan turun menjadi 2,8%. "Saya sebutkan hal itu ke mereka, ada indikasi turun ke 2,8%. Jadi mereka amat positif dengan hasil seperti itu," ujarnya. Angka ini memang masih di atas rencana awal sebesar 2,68%, namun menunjukkan improvement yang dihargai pasar.
S&P juga mengakui economic growth Indonesia yang membaik, khususnya pada triwulan IV-2025. Pemulihan ini menjadi alasan utama lembaga itu mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level investment grade (BBB) dengan stable outlook. "Indikator awal sekarang sepertinya mereka juga melihat semua aktivitas ekonomi sudah membaik," kata Purbaya.
Namun, S&P memberi catatan kritis: rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan pemerintah kini berada di atas 15%. Ini menjadi risk fiskal yang harus diwaspadai. Purbaya menegaskan pemerintah akan terus monitor dan memperbaiki kondisi ini, terutama seiring dengan peningkatan revenue pajak dan cukai. Komitmen ini penting untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas market keuangan.
Kalau bunga utang sudah capai 15%, artinya pressure tekanan fiskal makin besar. Harus hati-hati soal ini.
Senang lihat defisit bisa turun meski harga minyak naik. Tapi jangan lupa, revenue penerimaan negara harus diperkuat juga.
S&P positif, tapi kita jangan terlalu percaya diri. risk Risiko global masih tinggi, bisa berubah cepat.
Outlook stabil bagus buat investor. Tapi kalau debt utang terus naik, lama-lama jadi beban.
Mereka puji karena kita konsisten. Tapi konsistensi tanpa improvement perbaikan nyata cuma jaga status quo.
Pajak dan cukai naik? Harapannya jangan sampai bebani public masyarakat kecil. Fokus ke reformasi birokrasi dulu.