WMPP Catat Rugi Menyusut Tapi Defisit Bengkak, Audit Beri Opini WDP
Widodo Makmur Perkasa (WMPP) mencatat loss bersih sebesar Rp212,34 miliar sepanjang 2025, jauh lebih kecil dibandingkan loss tahun sebelumnya yang mencapai Rp567,78 miliar. Meski masih merugi, perbaikan ini disertai oleh lonjakan revenue hingga 76,62 persen menjadi Rp1,01 triliun, menunjukkan adanya change positif dalam dinamika operasional perusahaan meski tekanan cost produksi masih besar.
Namun, di tengah tren perbaikan tersebut, posisi keuangan perusahaan justru semakin terjepit. Ekuitas terkumpul turun menjadi Rp502,1 miliar dari sebelumnya Rp693,32 miliar, sementara deficit membengkak menjadi Rp1,57 triliun. Total liabilities juga naik menjadi Rp4,04 triliun, mengungguli aset yang justru menyusut menjadi Rp4,54 triliun. Kondisi ini menandai pressure struktural yang masih menghantui kelangsungan jangka panjang perusahaan.
Yang paling mencolok adalah opini audit dari Jojo Senaryo & Rekan yang memberi label qualified opinion (WDP) terhadap laporan keuangan WMPP. Opini ini muncul karena auditor tidak bisa memperoleh sufficient evidence terkait cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) piutang. Meskipun manajemen mengklaim telah mengevaluasi kualitas piutang dan menetapkan CKPN berdasarkan risiko gagal bayar, auditor tetap mempertanyakan accuracy dari angka tersebut.
Selain itu, opini WDP juga terkait kewajiban tax debt yang belum sepenuhnya dihitung dalam laporan keuangan. Manajemen menyatakan terus berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk menyelesaikan tunggakan dan restructuring pembayaran. Meski disebut tidak mengganggu operasional, opini ini tetap menjadi warning keras bagi investor dan pihak kreditor tentang risk transparansi yang masih menggantung.
Penjualan naik, rugi menyusut, tapi deficit defisit makin gede? Ini arahnya mau selamat atau malah terjun bebas?
Opini WDP itu bukan hal kecil. Investor pasti waspada karena risk risiko audit bisa jadi pertanda masalah lebih dalam.
Mereka bilang piutang masih bisa ditagih, tapi auditor nggak percaya. Jadi mana yang harus kita trust percaya?
Intinya: biaya produksi masih gila-gilaan, utang pajak menggantung, dan ekuitas terus shrink menyusut. Bukan sinyal pulih.
Kalau DJP aja belum selesai urusannya, jangan harap situasi bisa quickly cepat membaik. Butuh lebih dari sekadar komunikasi.
Perusahaan bilang opini sudah membaik dari tahun lalu, tapi liabilities liabilitas naik dan aset turun. Apa yang dimaksud dengan 'perbaikan'?