Harga CPO Naik Dua Hari Berturut-Turut Meski Tak Besar
price minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali mengalami change positif untuk hari kedua secara beruntun, meski kenaikannya masih tergolong kecil. Pada perdagangan Kamis (16/4/2026), kontrak pengiriman tiga bulan di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup pada level MYR 4.476 per ton, naik tipis 0,09% dari hari sebelumnya. Dengan begitu, akumulasi kenaikan selama dua hari mencapai 0,22%, sebuah angka yang menunjukkan adanya pressure naik, namun belum cukup kuat untuk mendorong market melonjak tajam.
Penguatan ini terjadi di tengah ekspektasi bahwa permintaan global akan minyak sawit berpotensi turun setelah periode Idul Fitri berakhir. Biasanya, konsumsi minyak nabati mengalami puncaknya selama bulan Ramadan, lalu mereda setelahnya. Beberapa perusahaan kargo melaporkan bahwa ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1–15 April diperkirakan drop lebih dari 34% dibanding bulan sebelumnya, sebuah sinyal yang menambah risk bagi stabilitas price ke depan.
Namun demikian, pasar tidak jatuh bebas karena muncul harapan dari sisi permintaan di India, yang merupakan importir minyak nabati terbesar di dunia. Permintaan dari negara tersebut diperkirakan melonjak pada April, menyusul penurunan sebesar 19% pada Maret. Sinyal ini memberikan support psikologis yang cukup penting, mencegah terjadinya decline lebih dalam meskipun data ekspor regional masih menekan.
Secara keseluruhan, pergerakan price CPO saat ini mencerminkan tarik-menarik antara faktor musiman dan dinamika permintaan global. Bagi pelaku sektor riil dan investor, decision jangka pendek harus mempertimbangkan kedua sisi ini. Meskipun report ekspor menunjukkan pelemahan, sinyal dari India tetap menjadi hope yang bisa menjaga market dari gejolak besar dalam waktu dekat.
Harga naik dikit, tapi ongkos angkut dan biaya produksi tetap gila-gilaan. Petani kecil gak merasakan manfaatnya.
India beli banyak? Berarti mereka lagi panik stok, atau cuma temporary situasi temporer?
Turun 34% dalam dua minggu itu sharp tajam banget. Harusnya ini bikin alarm nyala di kementerian.
Sudah biasa begini pasca-Lebaran. Pasar lesu, lalu baru recover pulih perlahan. Yang penting India tetap serap.
Jangan terlalu percaya prediksi permintaan India. Bisa jadi cuma hype pasar. Harus lihat data faktual bulan depan.
Kalau ekspor ambruk dan harga cuma naik tipis, artinya demand permintaan global masih rapuh.