Kepala BGN Buka Suara soal Anggaran IT Capai Rp 1,2 T

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, akhirnya buka suara soal anggaran teknologi informasi yang mencapai value Rp 1,2 triliun. Anggaran besar ini dialokasikan untuk dua kebutuhan utama: pengembangan Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional (SIPGN) dan layanan managed service perangkat IoT. Isu ini menjadi sorotan publik setelah muncul pertanyaan mengenai transparansi dan efisiensi belanja digital pemerintah.

Dadan menegaskan bahwa seluruh proses pemilihan mitra strategis dan pelaksanaan anggaran tahun 2025 dilakukan dengan strict supervision serta sesuai regulasi yang berlaku. Tujuannya jelas: menjaga keamanan dan kedaulatan national data , terutama data sensitif terkait gizi masyarakat. Sebanyak Rp 550 miliar digunakan untuk membangun aplikasi SIPGN yang mencakup berbagai modul penting, sementara Rp 199 miliar dialokasikan untuk penyediaan layanan perangkat IoT.

Yang menarik, Perum Peruri (PERURI) dipilih sebagai mitra utama dalam proyek ini. Dadan menjelaskan bahwa PERURI bukan lagi hanya perusahaan percetakan uang, melainkan telah bertransformasi menjadi perusahaan teknologi high security. Ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2019, yang memberinya kewenangan sebagai penyedia solusi digital security untuk instansi pemerintah. Statusnya sebagai GovTech Indonesia juga diperkuat oleh Perpres Nomor 82 Tahun 2023.

BGN menekankan bahwa semua kerja sama dilakukan secara transparent dan mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Tidak ada ruang untuk penyimpangan, karena sistem yang dibangun akan memengaruhi distribusi gizi yang accurate dan bisa dipantau secara real-time. Dengan sistem ini, pemerintah berharap bisa mengatasi masalah gizi secara lebih efektif dan akuntabel.

Reaksi 8

  • A
    AdeJaya

    Rp 1,2 triliun itu bukan angka kecil. Harus dipastikan fund allocation benar-benar efisien dan tidak tumpang tindih dengan proyek lain.

  • L
    LinaKartika

    Senang PERURI berkembang, tapi tetap perlu ada public scrutiny yang ketat agar tidak jadi monopoli.

  • B
    BudiWicak

    Teknologi IoT untuk gizi? Keren sih, tapi jangan sampai technical issue malah menghambat distribusi di lapangan.

  • R
    RenoSeto

    Pemerintah selalu bilang transparan, tapi data realisasinya kapan bisa diakses publik?

  • N
    NanaPermata

    Yang penting sistem ini benar-benar bisa menjangkau desa terpencil, bukan hanya jadi digital showcase di kota besar.

  • F
    FajarEka

    PERURI sebagai GovTech? Menarik. Tapi apakah mereka punya cukup technical capacity untuk tangani proyek sebesar ini?

  • D
    DinaSari92

    Harapannya, data gizi anak-anak kita tidak jadi komoditas. Ini soal public trust , bukan cuma sistem IT.

  • A
    AgungWib

    Kalau sistemnya bisa pantau gizi secara real-time, berarti bisa tahu langsung kalau ada daerah kekurangan. Itu game changer kalau benar terjadi.

Artikel ini berbasis fakta dan disusun ulang untuk tujuan pembelajaran bahasa Inggris; reaksi pembaca adalah contoh dari beragam sudut pandang.

[email protected]