Prospek FORE di Tengah Tekanan Harga Kopi Global
Harga kopi global baru-baru ini mengalami correction hingga 3,94%, turun ke level US$284 per pon, menandai kembalinya harga ke posisi terendah sejak awal Juli 2025. Penurunan ini menjadi warning signal bagi prospek emiten kopi dalam negeri, terutama PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE), yang bisnisnya sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas.
Ahli strategi komoditas senior dari DeCarley Trading, Carley Garner, memprediksi harga kopi bisa mencapai US$2 per pon pada akhir tahun. Menurutnya, high prices selama ini justru mulai suppressing demand . Faktor utama di balik pelemahan harga ini adalah pemulihan coffee production di Brasil, sang raksasa produsen global.
Namun, manajemen FORE tetap optimistis. Direktur Utama Vico Lomar menekankan bahwa domestic consumption , ekspansi gerai, dan model bisnis hybrid online-offline tetap menjadi growth engine . Ia juga menyoroti pentingnya premium affordable dan consumer experience yang menjadi pembeda di tengah persaingan.
Ke depan, FORE akan fokus pada operational excellence , ekspansi berkualitas, dan penguatan kanal digital. Vico menambahkan bahwa strategic execution , inovasi menu, serta cost discipline akan menjadi kunci menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan, bukan hanya besar secara skala, tapi juga resilient dan bernilai jangka panjang.
Kalau harga kopi dunia terus turun, apakah FORE bisa tetap jaga margin? cost control Pengendalian biaya bakal jadi kunci utama.
Yang menarik itu soal hybrid model model hybrid online-offline. Banyak yang gagal eksekusi, tapi kalau FORE konsisten, bisa jadi competitive edge keunggulan kompetitif beneran.
Brasil produksi banyak, harga jatuh, kita yang bayar mahal di gerai. Kapan global supply pasokan global ngaruh ke harga lokal juga?
FORE bilang fokus pada consumer experience pengalaman konsumen, tapi di outlet ramai kadang pelayanan slows down melambat. Harus seimbang antara growth dan kualitas.
Prediksi harga US$2 per pon itu rendah banget. Tapi ya, selama domestic demand permintaan dalam negeri kuat, FORE mungkin masih bisa bernapas.
Mereka bilang sustainable growth pertumbuhan berkelanjutan, tapi tetap buka gerai dimana-mana. Kayaknya growth dulu, sustainability nanti.
Yang jarang dibahas: digital channel kanal digital sekarang bukan pelengkap, tapi main driver penggerak utama. FORE harus bisa manfaatkan data buat personalisasi.
FORE Donut dikembangkan secara selektif? Berarti mereka sadar nggak semua lini harus scale up diperbesar cepat. Ini langkah bijak.