Peneliti Senior ISI Ungkap Keuntungan Rusia-China dari Perang Iran dan AS
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) bukan hanya soal dua negara, tetapi juga panggung besar bagi perhitungan strategis Rusia dan China. risk yang meningkat di Timur Tengah justru dimanfaatkan oleh kedua kekuatan ini untuk memperkuat posisi global mereka, menurut analisis Peneliti Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI), Aisha Kusumasomantri. Meski secara terbuka menyerukan peace , Rusia dan China diam-diam mendapat keuntungan dari peperangan yang berkepanjangan, terutama karena sifatnya yang menguras sumber daya—dikenal sebagai perang atriski.
Untuk Rusia, pressure yang dialihkan AS ke Timur Tengah berarti fokus militer Barat berkurang di Eropa. Ini berdampak langsung pada konflik di Ukraina, di mana dukungan militer dan logistik dari AS ke Kyiv bisa weaken akibat keterbatasan sumber daya. "AS vakum di Eropa" adalah peluang strategis yang dimanfaatkan Moskow untuk memperdalam pengaruhnya tanpa ancaman langsung dari military AS yang lebih besar.
Di sisi lain, China melihat celah di kawasan Indo-Pasifik. Dengan AS sibuk di Timur Tengah, Beijing mendapat ruang untuk memperluas kontrol maritim dan politik di wilayah yang selama ini dianggap sebagai kawasan pengaruh Washington. Penarikan sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan juga menjadi sinyal bahwa AS terpaksa melakukan redeployment kekuatan, membuka ruang manuver bagi China di Asia Timur.
Namun, keduanya tidak ingin konflik melebar. Rusia dan China ingin perang tetap terbatas di Iran dan Timur Tengah—bukan menjadi perang global. Pernyataan keras dari juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyebut blokade Selat Hormuz sebagai tindakan reckless dan tidak bertanggung jawab. Di saat yang sama, Presiden Putin menawarkan diri sebagai mediator, menunjukkan diplomatic sebagai alat utama pencitraan. Mereka ingin terlihat sebagai penjaga stability , sambil mengambil keuntungan dari ketegangan yang mereka sebut ingin mereka hentikan.
Jadi semakin jelas bahwa perdamaian sering hanya rhetoric retorika kalau ada keuntungan dari konflik.
AS terjebak di dua front sekaligus, ini strategic strategi klasik yang dimanfaatkan Rusia dan China.
Ironis, mereka menyerukan damai tapi senyum diam-diam lihat AS kehabisan resources sumber daya.
Bahaya kalau konflik di satu wilayah bisa memicu shift pergeseran kekuatan global begini cepat.
Apakah ini yang disebut geopolitical geopolitik modern? Menunggangi krisis tanpa turun tangan langsung.
Tapi tetap saja, rakyat Iran yang paling terdampak. Semua calculations perhitungan besar ini sering lupakan manusia di lapangan.