Rp3,3 Triliun untuk DBD: Kapan Pencegahan Jadi Prioritas?

Pembiayaan penanganan demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia mencapai angka yang memukul: Rp3,3 triliun dari dana BPJS Kesehatan hanya dalam satu tahun. Angka ini bukan sekadar catatan treatment , melainkan cerminan dari beban disease yang terus merayap diam-diam di tengah masyarakat. Setiap rupiah yang dikeluarkan mewakili satu pasien yang dirawat di hospital , satu keluarga yang terguncang, dan satu hari kerja yang hilang.

Ketua Koalisi Bersama Lawan Dengue (KOBAR), dr. H. Suir Syam, menekankan bahwa biaya sebesar itu hanya mencerminkan medical , belum termasuk kehilangan produktivitas kerja dan beban ekonomi yang ditanggung rumah tangga. "Ini bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga economic dan kemanusiaan," katanya. Bayangkan: lebih dari 40 persen kasus terjadi pada kelompok usia produktif — orang-orang yang seharusnya menggerakkan roda perekonomian.

Masalah utama, menurut Syam, adalah fragmented antar sektor. Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, PU, environment , semuanya bergerak sendiri. Tidak ada coordinated yang menyatukan strategi pencegahan, edukasi, dan pengendalian vektor. Akibatnya, DBD terus spread , menggerus kesehatan dan produktivitas nasional tanpa hambatan yang berarti.

KOBAR mendorong pendekatan kolaboratif yang menyentuh akar masalah: dari edukasi masyarakat hingga sustainable seperti vaccination dan perbaikan sanitation lingkungan. Target ambisius mereka — nol kematian akibat DBD pada 2030 — hanya mungkin jika semua pihak bergerak bersama. "Tidak bisa sendiri-sendiri," tegas Syam. "Harus collaboration ." Tanpa itu, triliunan rupiah akan terus mengalir, tanpa hasil yang berkelanjutan.

Reaksi 8

  • W
    wawan_jaya

    Rp3,3 triliun itu duit negara, lho. Kalau prevention diperkuat dari sekarang, bisa hemat banyak.

  • N
    nina_lintas

    Di kantor aku kemarin ada yang kena DBD, langsung tenaga kerja berkurang tiga hari. Ini beneran dampak langsung.

  • P
    pak_roy

    Dulu DBD dianggap penyakit anak-anak, sekarang malah kena orang kantor. Harus ada awareness baru.

  • D
    dian_pertiwi

    Koordinasi antar kementerian emang selalu berantakan. Harapan cuma ke masyarakat yang peduli lingkungan.

  • B
    budi_tekno

    Kapan vaksin dengue jadi program nasional? Kalau masih optional , ya susah turun kasusnya.

  • R
    riski_99

    Setuju kolaborasi, tapi realitanya Puskesmas sama kelurahan aja sering tidak sinkron.

  • M
    mama_ela

    Anakku kena DBD tahun lalu, biaya keluar jutaan meski pakai BPJS. Biaya tambahan itu yang bikin berat.

  • R
    rendra_kobar

    Target 2030 mulus, tapi tanpa anggaran khusus dan akuntabilitas, cuma jadi wacana lagi.

Artikel ini berbasis fakta dan disusun ulang untuk tujuan pembelajaran bahasa Inggris; reaksi pembaca adalah contoh dari beragam sudut pandang.

[email protected]