KEK Kesehatan Tangerang Hemat Devisa Rp1,5 Triliun
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) health tourism di Tangerang diproyeksikan bisa menghemat devisa negara hingga Rp1,5 triliun. Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menjelaskan bahwa selama ini banyak masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri, terutama Singapura, dengan biaya sangat besar—mencapai Rp150 triliun per tahun. KEK di Banten ini hadir sebagai solution untuk menahan arus spending kesehatan yang selama ini mengalir ke luar negeri.
Selain menghemat devisa, proyek ini juga akan membuka sekitar 13.000 job opportunities di Banten dalam dua dekade ke depan. Investasi yang masuk diprediksi mencapai Rp18,8 triliun, dengan realisasi hingga akhir 2025 sudah mencapai Rp1,9 triliun. Sejauh ini, KEK tersebut telah menyerap 836 tenaga kerja dan melibatkan 14 pelaku usaha. Progres ini menunjukkan economic impact yang nyata dari kebijakan development kawasan.
Di kawasan D-Hub SEZ BSD City, pembangunan Gedung Medical Suite sedang berlangsung dan ditargetkan selesai pada September 2026. Fasilitas ini akan menjadi pusat layanan kesehatan berstandar internasional yang menyewakan ruang kepada klinik, laboratorium, dan penyedia layanan medis lainnya. Fokus utamanya adalah pada klinik specialist , termasuk penyakit tertentu, terapi sel punca, dan layanan fertilitas (IVF), yang selama ini banyak dicari di luar negeri.
Tidak hanya fasilitas, kawasan ini juga akan diperkuat dengan kehadiran universitas kesehatan berstandar global. Ini penting untuk memastikan ketersediaan tenaga medis profesional yang berkualitas tinggi. Dengan begitu, bukan hanya masyarakat Indonesia yang bisa berobat di dalam negeri, tetapi tenaga kesehatan kita juga berpotensi exported ke luar. Langkah ini membawa change besar dalam public trust terhadap sistem kesehatan lokal.
Bayangkan, Rp1,5 triliun bisa dihemat hanya karena orang nggak perlu ke Singapura buat operasi. Uang itu bisa dipakai buat public health kesehatan masyarakat lainnya.
Tapi apakah fasilitasnya benar-benar setara? Soalnya kalau cuma kelihatan mewah tapi pelayanan nggak reliable andal, orang tetap pilih pergi ke luar negeri.
Lapangan kerja 13 ribu dalam 20 tahun? Itu rata-rata cuma 650 per tahun. Harusnya bisa lebih quickly cepat, apalagi kalau ini proyek besar.
Yang menarik justru bagian universitas kesehatan. Kalau lulusannya berkualitas, kita bisa jadi pusat medical education pendidikan medis di Asia Tenggara.
Ini baru langkah awal. Tantangannya sekarang adalah menjaga konsistensi quality kualitas dan transparansi biaya. Jangan sampai malah jadi eksklusif hanya untuk kelas atas.
Harus diawasi betul investasi Rp18,8 triliun itu. Jangan sampai public funds dana publik ikut terlibat tapi manfaatnya nggak merata.