Terali Besi: Benteng Aman atau Perangkap Lethal?
Di tengah malam yang sunyi, api tiba-tiba menjilat dinding sebuah rumah di Jalan Rambutan Timur VI, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Kejadian pada Jumat dini hari (17/4/2026) itu bukan sekadar fire biasa—yang membuatnya makin mencekam adalah jeruji besi yang mengunci setiap jendela dan pintu. Awalnya dipasang untuk security , terali justru berubah menjadi trap mematikan saat keluarga di dalam berusaha menyelamatkan diri.
Petugas pemadam kebakaran datang cepat, tapi mereka harus menghabiskan waktu berharga hanya untuk membobol terali. Penyelamatan terhambat karena rumah dikunci rapat dan terlalu banyak terali. "Kesulitannya karena rumah itu digembok. Dipasangi teralis banyak. Kita jebol paksa akhirnya untuk masuk," kata Syukur, Perwira Piket Sudin Gulkarmat Jakarta Barat. Api yang membesar cepat dan thick membuat ruangan menjadi kuburan kecil tanpa ventilasi.
Lima nyawa dari satu keluarga tak tertolong. Mereka semua berada di dalam saat api mulai berkobar sekitar pukul 02.12 WIB. "Yang meninggal itu satu keluarga di dalam, enggak selamat," ujar Kanit Reskrim Polsek Grogol Petamburan, AKP Alexander Tengbunan. Tidak ada yang berhasil keluar. Tidak ada celah. Hanya tragedy yang tersisa di balik besi yang seharusnya melindungi.
Ini bukan kali pertama. Peristiwa serupa terjadi pada 2019 di Teluk Gong, Jakarta Utara, saat empat orang tewas terjebak di lantai dua ruko. Terali yang dirancang untuk protection justru menghalangi evakuasi. Bahkan hanya ada satu pintu kecil yang bisa dilalui. "Ya iya, karena kan pingin selamat tapi enggak selamat," kata Satriadi Gunawan, Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran saat itu. Pertanyaan yang sama kembali menggema: seberapa aman keamanan yang justru mengurung?
Setiap rumah di kompleks saya pakai terali tebal. Sekarang saya mikir dua kali—safety keselamatan dari maling atau dari api?
Pemerintah harus keluarkan aturan soal desain terali. Harus ada emergency pintu darurat yang bisa dibuka dari dalam tanpa kunci.
Di sini malah makin banyak yang tambah terali setelah ada kasus kebakaran. Logikanya kebalik—fear ketakutan malah bikin mereka makin terjebak.
Kami sering terlambat karena harus potong besi dulu. Alat ada, tapi waktu tidak. Respon cepat jadi sia-sia kalau aksesnya ditutup.
Saya pasang terali model baru yang bisa dibuka dari dalam kayak pintu darurat. Harusnya jadi standar nasional. Solusi sederhana, nyawa bisa terselamatkan.
Jadi ingat omongan ayah: perlindungan yang terlalu ketat bisa jadi barrier hambatan saat kita paling butuh lari. Sayangnya, kita baru sadar setelah terlambat.