REI Jabar Minta Harga Rumah Subsidi Naik 5-10% Akibat Tekanan Biaya Bahan Baku
Industri properti di Jawa Barat sedang menghadapi pressure berat akibat kenaikan harga bahan baku dan moratorium perizinan yang berkepanjangan. Setelah hampir tiga tahun harga rumah subsidi tidak berubah, para pengembang kini menghadapi dilema: mempertahankan harga yang tidak lagi sebanding dengan biaya produksi atau mengambil risiko menaikkan harga di tengah daya beli masyarakat yang masih weak .
Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat, Norman Nurdjaman, menyatakan bahwa kenaikan material cost bangunan sudah terasa sejak lama, bahkan sebelum adanya peringatan resmi dari Kementerian Pekerjaan Umum. Kelangkaan pasir dan batu akibat moratorium tambang sejak Agustus 2025 telah memicu price paving block dan material lain naik, sementara besi juga sudah mengalami kenaikan sekitar 1–2 persen dalam beberapa bulan terakhir.
Melihat risk terhentinya proyek rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), REI Jabar mengusulkan agar pemerintah segera merevisi harga acuan rumah subsidi. Mereka meminta kenaikan antara 5 hingga 10 persen—dari Rp166 juta menjadi sekitar Rp174 juta—untuk menjaga market tetap berjalan. Menurut Norman, kenaikan ini tidak akan terlalu membebani konsumen karena cicilan bulanan hanya bertambah sekitar Rp50.000.
Meski ada concern bahwa kenaikan harga bisa mengurangi minat beli, REI menilai bahwa daya serap pasar masih cukup kuat. Yang lebih mendesak, kata mereka, adalah kepastian dari pemerintah agar sektor properti tidak semakin terpuruk di tengah global uncertainty . Tanpa update harga acuan, banyak pengembang khawatir proyek rumah subsidi bisa terhenti karena tidak layak secara ekonomi.
Biaya semen dan besi naik terus, tapi harga rumah tetap. Risiko bangkrut buat pengembang kecil itu nyata banget.
Rp50 ribu tambahan cicilan emang kecil buat sebagian orang, tapi buat yang upahnya pas-pasan, itu bisa jadi pressure tekanan besar.
Pemerintah harus cepat ambil decision keputusan. Kalau terlalu lama, proyek MBR bisa macet total.
Moratorium tambang bikin supply pasokan material langsung ketat. Ini bukan cuma soal harga, tapi juga ketersediaan.
Harusnya pemerintah antisipasi dari awal. Kepercayaan publik ke program rumah murah bisa anjlok kalau janji tak ditepati.
Kenaikan 5-10% itu wajar, tapi jangan lupa: kalau cost biaya terus naik, ini cuma solusi sementara.