SBY Soroti Pentingnya Kepemimpinan dalam Krisis, Singgung Perdamaian Aceh hingga Konflik Global
Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali menjadi sorotan setelah tampil sebagai pembicara utama dalam acara SUPERMENTOR-28 berjudul "Kepemimpinan di Tengah Krisis" di Jakarta. Dalam pidatonya, SBY menekankan bahwa crisis —baik konflik bersenjata, bencana alam, maupun gejolak global—membutuhkan figur pemimpin yang tegas dan visioner. Ia menyebut bahwa keputusan politik yang cepat dan penuh pertimbangan bisa menjadi penentu antara peace dan perang.
Sebagai bukti nyata, SBY mengangkat kembali keberhasilan proses perdamaian Aceh yang ditandatangani di Helsinki. "Dalam waktu 8 bulan, konflik 30 tahun bisa diakhiri. Karena peace jauh lebih baik dibandingkan perang," ujarnya. Pencapaian ini, menurutnya, adalah hasil dari decision politik yang berani, komunikasi intensif, dan kesiapan semua pihak untuk berkompromi.
SBY juga menyoroti situasi internasional yang memanas, khususnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad. Ia memperingatkan bahwa kelanjutan konflik di Timur Tengah akan berdampak luas terhadap market global dan stabilitas ekonomi dunia. "Ekonomi akan berantakan di seluruh dunia," tegasnya, seraya menekankan bahwa tidak ada quick menang dalam diplomasi tanpa kompromi dari kedua belah pihak.
Bagi generasi muda, SBY memberikan pesan penuh makna: jangan takut mengambil risk dan jangan mudah menyerah saat menghadapi pressure . "Pemimpin harus memberi arah, ketenangan, dan bekerja nyata," katanya. Ia percaya bahwa kepemimpinan yang solutif bisa lahir dari mereka yang siap belajar dari kegagalan dan terus bergerak maju.
Tepat sekali soal Aceh—proses peace damai itu bukti bahwa kompromi politik itu mungkin, bahkan untuk konflik puluhan tahun.
Kita butuh lebih banyak pemimpin yang tidak hanya bicara, tapi benar-benar siap mengambil risk risiko demi keputusan sulit.
Tapi apakah kompromi selalu berarti mundur? Kadang terasa seperti kelemahan, bukan leadership kepemimpinan.
Pesan buat anak muda sangat menyentuh. Gagal itu bagian dari growth pertumbuhan, bukan akhir.
Bayangkan kalau perang Timur Tengah memanas—bisa langsung terjadi lonjakan price harga BBM dan pangan di sini.
Sayangnya, banyak pemimpin sekarang malah mencari popularitas, bukan solusi. Padahal crisis krisis butuh ketenangan, bukan hingar-bingar.