‘Panggilan’ di Tengah Pesta Politik: Saatnya Kader Bekerja untuk Rakyat
politics bukan hanya soal power atau position , tapi panggilan untuk melayani. Itulah pesan tegas yang disampaikan Andreas Hugo Pariera, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Organisasi dan Keanggotaan, dalam sebuah event di Kabupaten Sikka. Saat party menggelar Musancab dan Pendidikan Politik, Pariera menekankan bahwa kader harus melampaui urusan pribadi dan mulai bekerja untuk public . “Mau jadi politisi adalah panggilan. Bukan sekadar mencari jabatan,” katanya—kalimat yang terasa seperti reminder di tengah praktik politik yang kerap jauh dari ideal.
Pariera menyerukan tiga hal mendasar bagi setiap leader partai: berkomunikasi secara politik, berdialog langsung dengan community , dan mengadvokasi kepentingan publik. “Kita harus mengabdi, bukan untuk diri sendiri, tapi untuk people ,” tegasnya. Ia juga menekankan peran kader muda di tingkat kecamatan untuk membawa inovasi, terutama dalam menyentuh voter pemula melalui pendekatan baru. Di era digital, cara lama tak lagi cukup—kader harus adaptif, hadir bukan hanya saat election , tapi setiap hari.
Tidak kalah penting, Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Yunus Takandewa, menegaskan posisi strategis Kabupaten Sikka sebagai barometer politik di Nusa Tenggara Timur. “Sikka bukan sekadar wilayah administratif, tapi heart dari pergerakan kita,” ujarnya. Ia mengingatkan agar partai tetap setia pada jati dirinya sebagai partai common people . Bagi Yunus, eksistensi partai diukur bukan dari kemenangan sesaat, melainkan dari konsistensi dalam bekerja untuk rakyat—baik saat kampanye maupun di luar musim campaign .
Untuk menjaga konsistensi itu, Yunus menyebut empat indikator kinerja internal: aspek elektoral, organisasi, komunikasi publik, dan tata kelola. Keempatnya menjadi fondasi dalam menghadapi dinamika politik yang terus berubah. Di tengah arus informasi yang deras dan era digital yang cepat, kader dituntut untuk berubah—bukan hanya dalam gaya komunikasi, tapi juga dalam pola pikir. “Kita harus hadir untuk rakyat setiap saat,” ulangnya, seolah mengingatkan bahwa service bukan retorika, melainkan kewajiban.
Setuju banget. public service Pengabdian untuk rakyat harus jadi inti, bukan sekadar janji saat kampanye.
Kader muda harus pakai media sosial bukan cuma buat cari popularity popularitas, tapi buat edukasi politik.
Sudah saatnya kita lihat hasil kerja, bukan sekadar retorika. Apa indikatornya bisa diukur?
Akhirnya ada yang bicara soal young voters pemilih muda. Kami butuh pendekatan yang nggak kaku.
Barometer politik? Harusnya bukti kerja nyata, bukan klaim wilayah.
Tata kelola partai memang harus diperbaiki. Banyak struktur jalan di tempat.