Ketika Kegaduhan Menggantikan Akal: Paloh Kritik Politik Tanpa Substansi
Bayangkan ruang publik seperti pasar malam: ramai, penuh teriakan, tapi jarang ada yang benar-benar offering sesuatu yang berharga. Itulah gambaran yang digambarkan oleh Surya Paloh tentang politics saat ini—semakin jauh dari nilai-nilai ideal. Kegaduhan merajalela, tapi isinya hampa: opini tanpa dasar, debate tanpa arah, dan noise yang miskin substansi. Menurut Ketua Umum Partai NasDem itu, kita bukan sedang menyaksikan kekayaan pemikiran, melainkan poverty yang dipertontonkan secara terbuka.
Yang lebih mengkhawatirkan, diskursus publik kini bukan lagi ajang adu gagasan, tapi panggung sensation . Isu strategis terabaikan, digantikan oleh tontonan yang cepat viral namun cepat juga dilupakan. Dalam suasana seperti ini, trust antarwarga melemah, digerogoti oleh individualisme dan orientasi material yang semakin kuat. Nilai-nilai seperti kejujuran dan keadilan, yang seharusnya jadi fondasi, kini sering simplified hingga kehilangan makna dalam.
Surya Paloh menegaskan, akar masalah bukan cuma pada institutions yang lemah, tapi pada krisis karakter kolektif. Bangsa ini, katanya, lebih suka blame pihak lain daripada melakukan refleksi diri. Kalimatnya tajam: “Bangsa ini gemar mencari kambing hitam, tetapi miskin keberanian untuk mengoreksi diri.” Ini bukan sekadar criticism politik, tapi teguran moral terhadap cara kita semua berpikir dan respond persoalan bersama.
Di tengah semua ini, perguruan tinggi diharapkan jadi penyeimbang. Surya Paloh menekankan peran kampus sebagai social yang mampu melahirkan gagasan aplikatif dan menjadikan ilmu sebagai alat koreksi serta pendorong perubahan. Pandangan ini sejalan dengan pidato ilmiah Prof. Dossy Iskandar Prasetyo, yang menegaskan bahwa partai politik harus lebih dari sekadar kendaraan kekuasaan—ia harus menjaga konstitusi, merawat etika demokrasi, dan menyalurkan public dengan integritas. Gagasan lama, tapi kini terasa lebih urgent dari sebelumnya.
Setiap kali dengar 'kemiskinan nalar', langsung kepikiran debat di media sosial. Lebih suka drama daripada data.
Tapi apakah kampus masih punya ruang untuk jadi penyeimbang? Banyak dosen malah ikut politik praktis.
Masih ada harapan kalau generasi muda mulai kritis. Mereka butuh ruang, bukan khotbah.
Kalau semua sibuk blame menyalahkan, siapa yang akan mulai dari diri sendiri?
Surya Paloh bilang begitu, tapi partainya juga ikut dalam kancah yang sama. Hipokrisi atau sekadar retorika?
Nilai kejujuran memang terkikis, tapi bukan karena satu pihak saja.