Menahan Harga BBM, Tapi Melepas Rupiah?
economist Darmin Nasution kembali mengingatkan pemerintah soal risk besar menahan harga BBM di tengah gejolak global. Dalam wawancara di Simposium PT SMI 2026, ia menegaskan bahwa policy menahan harga BBM bersubsidi saat harga minyak dunia naik bukan tanpa cost . Selisih harga itu harus ditutup dengan tambahan subsidy , yang membebani anggaran dan menekan stabilitas ekonomi makro.
Salah satu dampak paling nyata, kata Darmin, muncul di pasar currency . Ketika pemerintah memilih tidak menyesuaikan harga energi, tekanan justru mengalir ke nilai tukar rupiah. “Artinya ya Anda membuat harga BBM di dalam negeri tetap tidak naik, misalnya, ya itu dia akan keluar tekanannya di tempat lain,” ujarnya. Tanpa adjustment fiskal, beban akan terakumulasi dan melemahkan mata uang lokal.
Darmin menekankan, tidak mungkin mempertahankan semua indikator ekonomi dalam kondisi ideal di tengah uncertainty . Setiap keputusan punya consequence yang harus ditanggung. Menahan kenaikan harga BBM mungkin populer secara politis, tapi bisa berbahaya jika tidak diimbangi dengan keseimbangan fiskal yang sehat.
Data terbaru mendukung kekhawatiran ini: pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah weaken 38 poin atau 0,22% menjadi Rp17.181 per dolar AS. Angka ini bukan sekadar grafik—tapi cermin dari pressure yang terus menghimpit. Bagi masyarakat, ini bisa berarti harga barang impor naik, sementara bagi negara, ruang gerak untuk financing semakin sempit.
Kalau BBM naik, inflasi langsung meroket. Tapi kalau rupiah terus melemah, lebih lama lebih parah. dilemma Memang situasi sulit.
Pemerintah selalu tunda keputusan sulit sampai terlambat. Kapan belajar dari masa lalu?
Darmin bicara logis. Kebijakan ekonomi selalu ada trade-off. Tapi publik jarang paham soal ini.
Jadi rakyat yang bayar lewat inflation inflasi atau lewat pajak. Mana yang lebih adil?
Mending BBM naik pelan-pelan daripada rupiah ambruk. Tapi siapa yang mau dengar suara akal sehat sekarang?
Setiap kali dengar 'penyesuaian', hati langsung waspada. Istilah halus untuk kenaikan harga.