Fadly Alberto Buka Suara Usai Insiden Tendangan Kungfu, Siap Terima Sanksi
Pemain muda Bhayangkara FC U20, Fadly Alberto Hengga, akhirnya speak up setelah kontroversi tendangan kungfu yang dilakukannya dalam laga kontra Dewa United Banten U20. Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Fadly menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan menyatakan kesiapannya untuk accept punishment dari pihak berwenang.
Insiden tersebut terjadi usai pertandingan di Stadion Citarum, Semarang, yang berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Dewa United. Suasana memanas setelah wasit mengesahkan gol yang dinilai offside oleh tim Bhayangkara. Ketika peluit panjang dibunyikan, keributan pecah di tengah lapangan, dan Fadly tiba-tiba berlari lalu mendaratkan dangerous move kepada Rakha Nurkholis, pemain lawan yang kemudian terkapar dan langsung mendapat medical attention .
Tindakan Fadly menuai kecaman luas karena dianggap merusak sportsmanship sepak bola dan membahayakan keselamatan sesama atlet. Bhayangkara FC Youth segera mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan sikap tegas mereka: tidak akan tolerate violence dalam bentuk apa pun. Tim juga sedang melakukan internal investigation dan mengumpulkan bukti untuk diserahkan ke otoritas kompetisi.
Respons publik begitu cepat dan keras. Banyak fans dan pengamat yang menuntut strict sanction agar tidak terjadi lagi aksi serupa di level usia muda. Di tengah tekanan ini, Fadly mengungkapkan penyesalan mendalam dan menyebut insiden itu sebagai regrettable moment . Namun, apakah permintaan maaf ini cukup untuk memulihkan public trust , masih menjadi pertanyaan besar.
Tendangan itu jelas reckless ceroboh banget. Bisa patah leher orang!
Minta maaf sih oke, tapi jangan lupa dia dapat advantage keuntungan dari posisi wasit yang lengah.
Panaskan suasana? Iya. Tapi tetap aja personal conduct perilaku pribadi harus dijaga.
Klub cepat respond merespons, itu yang penting. Sekarang serahkan ke proses.
Korban aja belum ngomong, si pelaku udah cari simpati duluan. Masa?
Ini soal discipline disiplin dan edukasi mental. Bukan cuma soal sanksi.