Rosenior Akui Belum Paham Dampak Chelsea Tak Lolos Liga Champions
Peluang Chelsea untuk qualify ke Liga Champions musim depan kian slim setelah kekalahan 0-1 dari Manchester United di Stamford Bridge. Dengan hanya tersisa lima match , klub asal London barat itu kini tertahan di posisi keenam klasemen sementara dengan 48 poin, terpaut tujuh angka dari Liverpool di urutan kelima.
Gol semata wayang Matheus Cunha membawa MU keluar sebagai pemenang, sekaligus memperpanjang streak hasil buruk The Blues yang sudah menelan empat kekalahan beruntun. Sebelum dikalahkan MU, Chelsea juga takluk dari Newcastle United, Everton, dan Manchester City, sambil gagal mencetak goal sama sekali dalam periode tersebut.
Manajer Liam Rosenior mengakui bahwa dia belum sepenuhnya memahami consequence jika Chelsea benar-benar gagal finis di zona Liga Champions. "Jawaban jujurnya adalah saya tidak tahu," ujarnya, menunjukkan tingginya pressure yang menghampiri tim di akhir musim.
Kegagalan lolos bukan hanya berdampak pada ambisi recruitment pemain, tetapi juga bisa mengganggu revenue klub dari penjualan dan sponsor. Rosenior menegaskan bahwa timnya masih berjuang hingga akhir, meski peluangnya terus shrink .
Empat kekalahan beruntun tanpa gol? Ini bukan cuma masalah taktik, tapi mental juga ikut crack retak.
Kalau sampai gagal lolos, bisa-bisa pemain bintang pada leave pergi satu per satu.
Rosenior bilang 'saya tidak tahu' — wajar, tapi tetap terasa seperti tidak punya control kendali.
Sekarang baru sadar betapa pentingnya consistency konsistensi di liga. Mainnya naik-turun terus.
Pendapatan turun, sponsor mundur, transfer terbatas — ini lingkaran setan yang susah keluar kalau tidak ada breakthrough terobosan.
Liverpool butuh tujuh poin dari lima laga? Masih mungkin, tapi depends tergantung juga pada tim lain.
Liga Champions itu bukan cuma gengsi, tapi penyelamat bagi klub besar kayak Chelsea.
Dulu mereka juara Eropa, sekarang rebutan posisi top lima. Dunia sepak bola cepat berubah.