Megawati ke Kader PDIP: Dilarang Korupsi, Harus Turun ke Bawah
Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memberikan arahan tegas kepada para kader partai dalam acara penguatan organisasi di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya new yang berpijak pada pemikiran kritis-dialektis Bung Karno, agar kader tidak hanya memiliki visi jangka panjang, tetapi juga tetap connected dengan realitas rakyat di lapangan.
Megawati secara eksplisit melarang praktik korupsi dan memerintahkan seluruh kader untuk go down , merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kader yang tidak bekerja maksimal akan menerima warning , bahkan ancaman sanksi. Pesan ini disampaikan di hadapan ketua, sekretaris, dan bendahara pengurus daerah yang hadir secara luring maupun daring.
Ia juga mengangkat isu geopolitik global, khususnya ketegangan Iran-Israel di Selat Hormuz, yang dinilai berpotensi memberi impact serius terhadap perekonomian dalam negeri. Dalam konteks ini, Megawati meminta para kepala daerah dan pimpinan dewan dari PDIP untuk mengambil urgent dan melakukan penghematan anggaran secara masif.
Untuk merespons pressure eksternal dan memastikan stabilitas sosial, ia menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan pangan rakyat dan mendorong job creation melalui mobilisasi kerja padat karya. Langkah ini, kata Megawati, harus didorong dengan sense of priority and urgency agar tidak terlambat menghadapi change yang datang cepat.
Akhirnya partai besar mulai serius soal turun ke bawah. Tapi apakah ini cuma retorika atau ada follow-up tindak lanjut nyata?
Peringatan soal korupsi penting, tapi lebih penting lagi sistem yang mencegah temptation godoran itu sejak awal.
Kebijakan penghematan anggaran harus dimulai dari atas dulu, jangan malah cut memangkas program rakyat kecil.
Sense of urgency dari Megawati terdengar serius. Tapi apakah kader di daerah punya support dukungan yang cukup untuk eksekusi?
Mengaitkan geopolitik dengan harga pangan itu langkah cerdas. Tapi jangan sampai isu global jadi excuse alasan untuk lepas tanggung jawab lokal.
Pesan 'rasakan denyut kehidupan rakyat' terdengar emosional, tapi justru itu yang paling needed dibutuhkan sekarang.