Dari Pesta Gol di Bandung ke Degradasi: Apa yang Salah dengan Oxford United?
season yang penuh gejolak bagi Oxford United akhirnya berakhir dengan terdegradasi ke League One, kasta ketiga sepak bola Inggris. Dua tahun setelah promosi melalui play-off yang dramatis, tim besutan Ole Romeny harus kembali ke divisi bawah setelah kekalahan Charlton Athletic atas Hull City membuat mereka matematis tak bisa lagi keluar dari zona merah. Ironisnya, di hari yang sama, Oxford United justru meraih victory terbesar mereka musim ini: menghancurkan Sheffield Wednesday 4-1. Tapi, angka 11 kemenangan dari 45 match dan koleksi 47 poin tak cukup untuk menyelamatkan muka.
Media Inggris mulai menggali akar krisis ini. Jerome Sale dari BBC Radio Oxford menilai, kegagalan bertahan bukan karena satu kesalahan fatal, melainkan series masalah kecil yang saling terkait. Mulai dari preseason yang kacau, jendela transfer yang tak efektif, hingga pergantian coach yang terlambat. "Ini bukan satu hal besar tetapi serangkaian hal yang berkaitan," kata Sale. Awal campaign yang lambat membuat tim tak pernah benar-benar pulih sepanjang competition , meski sempat menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Namun, sorotan tajam jatuh pada keputusan kontroversial: tur pramusim ke Indonesia untuk bermain di Piala Presiden. Dale Ventham dari Last Word on Sports menyebut perjalanan ini sebagai awal dari kehancuran. "The U’s kehilangan beberapa pemain karena injury , organisasi acara tersebut buruk, dan membuat skuad tertinggal beberapa minggu dalam hal preparation menjelang musim baru," tulisnya. Tur yang seharusnya menjadi pemanasan justru berubah menjadi setback besar. Mereka kalah dalam tiga opening pertandingan liga—start yang terlalu dalam untuk bisa didaki kembali.
Kini, Oxford United harus merenung: apakah keikutsertaan di turnamen internasional seperti Piala Presiden layak jika mengorbankan fitness dan kesiapan tim? Keberhasilan di tournament pramusim tak bisa menutupi kerugian jangka panjang. Leicester City dan Sheffield Wednesday turut menyusul mereka ke League One, tapi hanya Oxford yang membawa narasi unik: dari celebration gol di Bandung hingga degradasi di Inggris—semua dalam satu span waktu yang menyakitkan.
Tur ke Indonesia mahal, panas, dan jauh. Tim jelas belum siap mentally secara mental untuk musim baru.
11 kemenangan dari 45 laga? Itu rata-rata hampir kalah tiap dua minggu. Nggak mungkin selamat.
Dulu promosi dengan haru biru, sekarang turun dengan shame aib. Sedih banget.
Piala Presiden emang keren buat branding, tapi buat performance performa tim? Ragu.
Rowett keluar karena tekanan, terus diganti Romeny. Tapi pergantian pelatih di tengah badai nggak cukup kalau fondasi sudah rapuh.
47 poin dari 45 laga, itu berarti rata-rata cuma dapet 1 poin per pertandingan. Standar banget, nggak cukup buat selamat.
Cedera pemain saat tur pramusim itu peringatan merah yang diabaikan manajemen.
Mungkin tahun depan lebih fokus di League One. Di sana masih ada harapan buat bangkit.