Hanura NTB Tolak Isu Kader Kota Bima Pindah Massal ke PSI
Partai Hanura di Nusa Tenggara Barat secara tegas deny kabar perpindahan mass kader dari Kota Bima ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ketua DPD Hanura NTB, Ahmad Dahlan, menyatakan bahwa isu tersebut tidak berdasar dan justru merupakan upaya narrative opini oleh pihak yang tidak lagi memiliki kewenangan di tubuh partai.
Ahmad Dahlan menegaskan bahwa Mohammad Casman, yang mengklaim sebagai Ketua DPC Hanura Kota Bima, sudah tidak menjadi bagian dari partai sejak Juli 2025. Ia menyebut Casman tidak aktif dan mangkir saat dipanggil untuk menyelenggarakan branch meeting , sehingga partai mengambil alih kepemimpinan dan menunjuk Amiruddin H. Muchtar sebagai ketua definitif periode 2025-2030 setelah Muscab Oktober 2025.
Pernyataan Casman tentang exodus 2.500 kader ke PSI dinilai tidak valid karena ia tidak lagi mewakili struktur resmi Hanura. Kepemimpinan baru justru sedang membangun kembali kekuatan partai, termasuk menyiapkan headquarters sekretariat dan merangkul kader di tingkat ranting. Hanura menilai masa kepemimpinan Casman adalah masa inactivity bagi partai di Kota Bima.
Dengan struktur baru yang solid, Hanura NTB kini menargetkan peningkatan representation di Kota Bima pada Pileg 2029, setelah hanya meraih satu kursi pada 2024. Langkah ini menunjukkan upaya nyata memperbaiki public trust publik dan memperkuat political presence partai di tengah dinamika politik lokal yang kompetitif.
Akhirnya ada klarifikasi resmi. Sudah dari awal terasa aneh kok tiba-tiba mass movement pindah massal, apalagi PSI belum tentu bisa lolos ambang batas.
Ini soal legitimasi. Kalau yang ngomong eks ketua yang dianggap tidak aktif, ya wajar partai reject menolak narasinya.
Menyiapkan kantor dan struktur itu tanda serius. Bukan cuma rhetoric retorika tanpa aksi.
Target naik kursi di 2029 mulai realistis kalau kaderisasi benar-benar dibangun dari bawah, bukan cuma andalkan statement pernyataan sensasional.
Yang jadi tanda tanya: kenapa Casman masih bisa bicara seolah dia ketua? Apa sistem verifikasi internal partai lemah?
Ini pola lama. Kalau kalah atau dicopot, bikin isu drama agar tetap diperhatikan.
Legowo itu penting. Partai butuh orang yang mau kerja, bukan yang attention cari perhatian lewat isu bohong.
Yang penting kini bukan siapa pindah, tapi bagaimana mereka bisa menunjukkan impact dampak nyata di masyarakat.