Gagal CPNS karena Dipaksa Orang Tua usai Lulus dari Unair, Pilih “Melarikan Diri” ke Bali daripada Overthinking dan Hidup Bahagia
Mega, lulusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Airlangga (Unair), pernah merasa pressure hebat dari keluarga untuk menjadi aparatur sipil. Setiap kali pulang kampung, pertanyaan "Kamu tuh lulusan Unair loh, kenapa nggak masuk CPNS?" selalu menggema. Perubahan yang ia harapkan justru tertahan oleh pandangan orang terdekat, membuatnya merasa dijebak dalam harapan yang bukan miliknya sendiri.
Ia akhirnya mencoba daftar CPNS demi memenuhi keinginan orang tua, tapi gagal. Alih-alih tenggelam dalam kekecewaan, Mega memilih jalan lain: belajar dari kegagalan. Saat ikut tes Management Trainee yang report -nya penuh dengan Bahasa Inggris, ia kembali tersandung. "Aku gagal karena cuma bisa komat-kamit. Bahasa Inggrisku compang-camping," katanya. Tapi justru di situlah muncul decision besar: ia tak mau lari dari tantangan lagi, tapi menghadapinya dengan persiapan.
Dengan dukungan kakaknya, Mega mulai les Bahasa Inggris secara intensif selama beberapa bulan. Ia menyadari bahwa risk untuk tetap diam jauh lebih besar daripada mencoba sesuatu yang baru. Impian bekerja di Bali, yang dulu terasa jauh, kini menjadi tujuan konkret. Proses belajar itu bukan hanya soal grammar atau kosakata, tapi soal membangun kembali trust pada diri sendiri.
Kini, Mega bekerja di industri perhotelan di Bali—lingkungan yang dinamis dan penuh dengan orang dari berbagai latar belakang. Ia merasa jauh lebih bahagia dibanding jika harus duduk di balik meja sebagai PNS. Baru disadari, ilmu dari Unair tidak sia-sia; justru sangat berguna dalam komunikasi lintas budaya sehari-hari. Kadang, kebahagiaan datang bukan dari jalur yang direncanakan, tapi dari keberanian mengambil jalan yang quickly berubah arah.
Bener banget, tekanan dari keluarga kadang bikin kita risk risiko kehilangan diri sendiri. Tapi susah juga kalau harus melawan arus.
Bali emang beda atmosfernya. Di sini kerja enggak cuma soal gaji, tapi juga soal change perubahan hidup.
Aku juga dari Unair, dulu mikir jurusanku nggak 'prestisius'. Tapi sekarang malah bersyukur. Ilmu komunikasi itu support dukungan besar di dunia kerja nyata.
Sedih baca ini... aku yang sudah jadi PNS malah ngerasa hidupku datar. Kayak nggak ada pressure tekanan buat maju.
Orang tua memang sering punya harapan tinggi. Tapi kadang mereka lupa kalau anak juga butuh trust kepercayaan untuk memilih jalannya sendiri.
Bahasa Inggris memang game-changer. Gue gagal wawancara HRD karena grogi ngomong Inggris. Sekarang les tiap malam, demi decision keputusan yang lebih baik.