Prospek FORE di Tengah Tekanan Harga Kopi Global
Harga kopi global yang terus pressure pada permintaan menjadi tantangan serius bagi emiten kopi dalam negeri. PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) tercatat menghadapi kondisi ini di tengah perlambatan harga komoditas yang turun 3,94% dalam sepekan terakhir, kembali ke level lowest sejak awal Juli 2025 di US$288 per pon.
Ahli strategi komoditas senior Carley Garner memperkirakan harga bisa jatuh hingga US$2 per pon pada akhir tahun, didorong oleh pulihnya produksi kopi di Brazil, produsen utama dunia. Menurutnya, harga yang tinggi selama ini justru ikut suppressing permintaan global, membuat pasar lebih volatile dan penuh ketidakpastian.
Namun, manajemen FORE tetap optimistis. Direktur Utama Vico Lomar menegaskan bahwa meski ruang pertumbuhan harus dibaca secara realistis, domestic , ekspansi ritel, dan tren chained coffee masih memberi ruang ekspansi. Keunggulan premium affordable , model bisnis hybrid, dan diferensiasi pengalaman konsumen menjadi fondasi utama pertumbuhan.
Ke depan, FORE akan fokus pada ekspansi quality , peningkatan produktivitas gerai, dan operational excellence . Perusahaan juga akan memperkuat digital channel , inovasi menu, serta disiplin cost control untuk menjaga profitabilitas di tengah tekanan pasar global.
Harga kopi dunia turun, tapi di gerai tetap mahal. Apa cost control pengendalian biaya beneran jalan atau cuma retorika?
FORE Coffee makin banyak cabang, tapi kualitas layanan justru turun. operational excellence Keunggulan operasional di mana?
Kalau produksi Brazil naik dan harga dunia jatuh, FORE harus cepat manfaatkan bahan baku murah. opportunity Peluang ini jangan sampai terlewat.
Yang penting tetap bisa ngopi tanpa financial pressure tekanan finansial. Semoga harganya tidak ikut-ikutan global terus.
Kopi lokal harusnya lebih tangguh. Fokus ke pasar domestic dalam negeri itu lebih aman daripada tergantung harga ekspor.
FORE Donut berkembang pelan-pelan. Tapi apakah chained business bisnis berantai bisa sukses seperti kopinya?