Harga CPO di Bursa Malaysia Naik Tipis ke Level MYR 4.472
Harga commodity minyak sawit mentah, atau Crude Palm Oil (CPO), di Bursa Malaysia menunjukkan tanda recovery kecil setelah sebelumnya tertekan. Pada perdagangan Rabu (15/4/2026), kontrak pengiriman tiga bulan berakhir di level MYR 4.472 per ton, naik tipis 0,13 persen meskipun sempat mengalami tekanan di sesi-sesi awal. Kenaikan ini terjadi setelah harga CPO sempat anjlok hampir 2 persen, menunjukkan volatilitas yang tinggi di tengah market yang masih waspada.
Meski ada bounce teknis, posisi harga saat ini tetap berada dekat level terendah dalam satu bulan terakhir. Dalam rentang sepekan, CPO mencatat tren negatif dengan penurunan 2,5 persen secara point-to-point. Salah satu faktor utama yang memberi pressure adalah penguatan mata uang ringgit Malaysia sebesar 0,53 persen terhadap dolar AS. Kenaikan nilai tukar ini membuat kontrak CPO lebih mahal bagi investor asing, sehingga mengurangi daya tariknya di pasar global.
Sentimen negatif juga datang dari luar sektor pertanian. Meredaknya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mengubah outlook energi global. Laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran berencana kembali ke meja perundingan memicu penurunan harga minyak dunia. Minyak brent turun 0,16 persen ke level 94,63 dolar AS per barel. Penurunan ini berdampak langsung pada minat terhadap biodiesel, karena harga minyak fosil yang lebih rendah mengurangi insentif untuk beralih ke bahan bakar nabati—salah satu pasar utama CPO.
Dari sisi teknikal, indikator analysis menunjukkan sinyal campuran. Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di angka 45, masih dalam zona bearish. Namun, Stochastic RSI menyentuh level 1, menandakan kondisi jenuh jual yang dalam. Untuk perdagangan Kamis, peluang penguatan terbuka dengan target resisten di MYR 4.566–4.572 per ton. Jika terjadi koreksi, level support terdekat berada di MYR 4.449. Pasar kini menanti apakah momentum pemulihan bisa bertahan atau malah kembali melemah.
Tekanan dari nilai tukar ini beneran bikin susah ekspor, apalagi kalau currency mata uang terus menguat. Harusnya ada strategi lindung nilai.
Padahal produksi stabil, tapi harga malah terus tertekan. Ini bukan cuma soal price harga, tapi juga soal kepercayaan pasar terhadap komoditas kita.
Geopolitik berubah, harga minyak turun, otomatis biodiesel kurang diminati. Logika pasar jelas, tapi petani kecil yang kena imbasnya.
RSI 45 masih bearish, tapi Stochastic di 1 itu sinyal oversold kuat. Bisa jadi peluang entry buat yang spekulatif, tapi risikonya tetap tinggi.
MYR 4.472 naik tipis, tapi secara mingguan masih merah. Jadi ini recovery atau sekadar napas pendek sebelum turun lagi?
Yang sering dilupakan: kenaikan ringgit memang bikin CPO lebih mahal, tapi juga menekan import impor mesin dan pupuk. Dampaknya kompleks.