Eks Gitaris Stinky Pencipta Lagu Mungkinkah Meninggal Dunia
Jakarta digemparkan oleh kabar duka dari dunia musik tanah air. Ndhank Surahman Hartono, eks guitarist sekaligus pencipta lagu band Stinky, meninggal dunia pada Sabtu, 18 April 2026. Kabar ini disampaikan langsung oleh Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI) lewat unggahan di Instagram, yang turut mengenang peran besar Ndhank dalam membangun legacy musik nasional.
Melalui pernyataan resminya, AKSI menyatakan deep condolences atas kepergian salah satu anggota terkemuka mereka. "Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya Ndhank Surahman Hartono, pencipta lagu dan musisi Indonesia, eks gitaris @stinkyband," tulis AKSI. Mereka menekankan bahwa karya Ndhank, terutama lagu "Mungkinkah" dan "Jangan Tutup Dirimu", akan tetap hidup dan dinyanyikan lintas generation .
Tak hanya dikenang sebagai penulis lagu, Ndhank juga dihormati sebagai advocate hak cipta musik di Indonesia. AKSI menegaskan bahwa komitmennya dalam memperjuangkan recognition dan perlindungan bagi para pencipta lagu meninggalkan jejak yang abadi. "Almarhum dikenal sebagai pejuang hak cipta yang berdedikasi," tambah mereka, seraya menyebut Ndhank sebagai bagian dari keluarga besar yang memperkuat ruang perjuangan di industri musik.
Sebelum berpulang, Ndhank sempat menjadi sorotan karena melayangkan somasi terkait hak royalty atas lagu "Mungkinkah". Ia juga secara terbuka meminta maaf atas polemik yang muncul, menunjukkan sisi human di balik perjuangan hukum. AKSI berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan Ndhank ditempatkan di sisi terbaik Tuhan Yang Maha Esa.
Baru tahu dia juga penggagas 'Jangan Tutup Dirimu'. Lagu itu beneran game-changer terobosan buat musik kita waktu itu.
Sedih banget. Baru aja nyanyi 'Mungkinkah' kemarin. Rasanya sudden tiba-tiba banget kabarnya.
Perjuangannya soal royalti itu nggak lebay. Kita sering lupa creator pencipta butuh nafkah juga, bukan cuma tenar.
Dulu waktu dia keluar dari Stinky, banyak yang nggak nyadar betapa besar contribution kontribusinya. Sekarang baru terasa.
Band 90an beneran mulai tinggal kenangan. Rasanya era masa keemasan itu pelan-pelan tutup.
Harusnya sistem royalti lebih adil dari awal. Nggak perlu sampe ada somasi dulu baru pada sadar. shame Malu kita.
Semoga langkahnya jadi panggilan tersadar buat industri. Bukan cuma buat musisi, tapi juga label dan platform.