Bita Hemmati: Perempuan Pertama Iran yang Terancam Dieksekusi di Tiang Gantung
Tegangan politik di Iran kembali memuncak setelah new menyeret perhatian dunia: ancaman hukuman mati terhadap Bita Hemmati, seorang perempuan yang disebut sebagai yang pertama dijatuhi death penalty dengan eksekusi di tiang gantung terkait gelombang demonstrasi akhir 2025. Keputusan ini bukan sekadar legal case , tetapi sinyal keras dari negara terhadap gerakan perlawanan sipil yang terus menggema.
Bersama suaminya Mohammadreza Majidi-Asl dan dua tetangganya, Behrouz dan Kourosh Zamaninejad, Bita dituduh terlibat dalam aksi yang mengancam keamanan nasional. Menurut report dari Human Rights Activists News Agency, mereka dituduh bekerja sama dengan pihak asing yang dianggap bermusuhan. Selama persidangan, jaksa menyatakan para terdakwa diduga menggunakan bahan peledak, meski bukti spesifik tidak dibuka untuk umum—sebuah celah yang memperbesar risk ketidakadilan.
Demonstrasi yang meletus sejak 28 Desember 2025 bermula dari ketidakpuasan publik terhadap kebijakan represif pemerintah. Pemerintah merespons dengan pembatasan internet, bahkan pemadaman total di beberapa wilayah, upaya yang justru menambah pressure global terhadap transparansi. Laporan lapangan menyebutkan ribuan orang mungkin tewas dalam bentrokan, meski angka resmi belum dikonfirmasi secara independen.
Kasus Bita Hemmati kini menjadi simbol perlawanan perempuan di Iran. Di tengah sorotan internasional, tekanan terhadap Teheran semakin intense , bukan hanya dari organisasi HAM, tetapi juga dari negara-negara Barat. Ini bukan lagi soal hukuman individu, melainkan ujian bagi public trust terhadap sistem peradilan dan kebebasan sipil di tengah rezim otoriter.
Hukuman mati untuk peserta demo? Ini bukan justice keadilan, tapi balas dendam politik. Risiko HAM di Iran makin nyata.
Perempuan dieksekusi karena protes? Ini bukan sekadar change perubahan kebijakan yang dituntut, tapi kebebasan hidup.
Laporan soal interogasi paksa dan bukti tertutup menunjukkan sistem peradilan mereka cacat. Keputusan mati seperti ini tidak bisa dipercaya.
Mereka ditangkap bareng, tinggal satu gedung... jelas ini operasi terkoordinasi. Bukan ancaman keamanan, tapi pressure tekanan terhadap suara kritis.
Jika eksekusi benar terjadi, ini akan jadi noda besar. Dunia harus lebih dari sekadar warning peringatan.
Internet dimatikan, korban berjatuhan, sidang tertutup. Apa lagi yang disembunyikan? Kepercayaan publik sudah hancur.