Video: Bos Honda Akui Tertinggal dari Kecepatan Produksi Otomotif China
Tahun 2026 diprediksi menjadi titik balik dalam market otomotif global. CEO Honda, Toshi-Hiro Mibe, secara terbuka mengakui keunggulan manufaktur otomotif China setelah melakukan kunjungan ke sebuah pabrik otomatis di Shanghai pada Februari 2026. Pengakuan ini bukan sekadar komentar ringan, melainkan refleksi mendalam atas pergeseran kekuatan industri yang dulu didominasi oleh Jepang dan Jerman.
Pabrik yang dikunjungi beroperasi tanpa kehadiran human di lantai produksi. Seluruh proses, mulai dari perakitan hingga pengujian, dijalankan oleh robot secara penuh dan terintegrasi. Sistem ini memungkinkan production kendaraan listrik dalam volume besar dengan kecepatan yang jauh melampaui pabrik konvensional milik merek Jepang.
Mibe menekankan bahwa speed produksi di pabrik China menjadi tantangan besar bagi Honda. Perusahaan kini merasa tertekan untuk mempercepat transformasi digital dan otomasi di seluruh rantai pasokannya. Jika tidak, mereka berisiko kehilangan pangsa pasar secara signifikan di tengah competition yang semakin ketat.
Dalam program Autobizz CNBC Indonesia yang tayang Selasa (21/04/2026), disoroti bagaimana inovasi manufaktur China tidak lagi soal biaya murah, melainkan soal efficiency sistem dan skalabilitas. Bagi Honda, ini bukan sekadar ancaman, tetapi juga warning bahwa model bisnis lama tidak lagi cukup untuk bertahan di era otomotif baru.
Kalau soal kecepatan produksi, China emang susah dikalahkan. Tapi kualitas jangka panjangnya gimana? durability Ketahanan mesin listrik mereka belum teruji 10 tahun ke depan.
Ini signal sinyal bahaya buat industri manufaktur Jepang. Kalau sampai Honda kewalahan, bisa jadi domino effect ke merek lain.
Robot semua? Kita malah masih ribut soal upah buruh. gap Kesenjangan teknologi makin lebar.
Honda harus mulai berpikir ulang soal strategy strategi global. Tidak bisa lagi andalkan reputasi lama.
Saham Honda kemarin turun 3%. Pasar sudah mulai respons risk risiko ini sebelum pernyataan resmi keluar.
Pabrik tanpa manusia bukan hal baru, tapi yang di Shanghai itu integrasinya sangat seamless. Langsung dari desain ke produksi tanpa delay.
Di balik efisiensi tinggi, jangan lupa ada isu penggantian pekerja oleh mesin. Harus ada kebijakan pelatihan ulang.