Belum Terbit, Buku Dasco Wapres 2029 Sudah Diburu 12 Ribu Orang
Bayangkan sebuah buku yang belum terbit, tapi sudah dipesan dua belas ribu eksemplar dari seluruh penjuru Tanah Air. Bukan karya fiksi, bukan novel percintaan, melainkan analisis political yang mengangkat sosok Sufmi Dasco Ahmad sebagai kandidat potensial vice president 2029. Di tengah hiruk-pikuk pencalonan yang kerap dipenuhi sorotan media, munculnya buku ini justru menunjukkan pergeseran minat: dari figur gemerlap menuju tokoh yang lebih banyak diam, namun disebut punya isi.
Penulisnya, Ahmad Bahar, bukan nama baru dalam dunia literasi national . Ia dikenal karena prediksi-prediksinya yang kerap menjadi kenyataan. Buku tentang Jokowi-JK di 2013? Terbukti. Jokowi-Ma'ruf di 2019? Kembali tepat. Kini, lewat new , ia membidik masa depan dengan tajuk Buku Pintar Politik, Wapres 2029: Sufmi Dasco Ahmad. Lokasi peluncuran di dekat Universitas Indonesia bukan sekadar soal practicality , tapi juga simbolik—sebuah kampus yang punya sejarah sebagai ruang perjuangan dan kritis.
Yang menarik, Dasco tidak pernah tampil sebagai politisi loud . Ia bukan tipe yang menguasai layar televisi atau media sosial. Namun justru karena kedekatannya dengan center , khususnya Presiden Prabowo Subianto, ia dianggap sebagai figur influential . Dalam istilah yang lebih santai, seperti dikatakan penulis, ia bukan ordinary . Dan publik tampaknya mulai menyadari bahwa kekuatan politik tak selamanya datang dari sorotan kamera, tapi juga dari ruang-ruang rapat yang sunyi.
Ahmad Bahar sendiri mengaku sempat afraid menulis prediksi, karena terlalu sering terbukti benar. Tapi kali ini, tujuannya bukan sekadar menebak masa depan—ia ingin menciptakan healthy dan kritis dalam berpolitik. Buku ini, katanya, adalah bentuk education yang dibutuhkan saat masyarakat masih terlalu mudah tergoda oleh popularity tanpa melihat leadership . Dengan 12 ribu pemesan sebelum peluncuran, tampaknya pesannya mulai didengar.
12 ribu pemesan sebelum rilis? unbelievable Tidak masuk akal kalau bukan karena rekam jejak penulisnya.
Dasco memang tidak banyak bicara, tapi keputusannya selalu tajam. Mungkin itu yang dicari sekarang: quiet diam tapi berpengaruh.
Buku politik jadi tren lagi? Bagus, asal jangan cuma jadi alat promotion promosi belaka.
UI jadi lokasi peluncuran? Cocok. Kampus ini memang seharusnya jadi ruang debate debat ide, bukan cuma tempat kuliah.
Prediksi bisa tepat sekali, bisa dua kali, tapi belum tentu tiga kali. Kita lihat saja nanti.
Kalau Dasco jadi Wapres, semoga lebih banyak kerja daripada bicara. Indonesia butuh itu.
Senang buku politik laku. Artinya masyarakat mulai mau think berpikir sebelum memilih.