Ikan Sapu-sapu Dibasmi, Komisi D DPRD DKI Singgung Soal Penggunaannya oleh Pedagang Makanan
Pembasmian massal new terhadap ikan sapu-sapu di Jakarta menarik perhatian publik setelah 6,9 ton ikan berhasil ditangkap dalam satu hari. Aksi serentak yang digelar di lima wilayah DKI mengungkap sisi gelap dari kebiasaan sebagian pedagang yang menggunakan ikan invasif ini sebagai bahan makanan. Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Ida Mahmudah, mengatakan decision ini didorong oleh kekhawatiran kesehatan masyarakat yang semakin pressure .
Menurut Ida, meskipun ikan ini dikenal cepat tumbuh dan bisa membersihkan kotoran di kolam, keberadaannya di sungai kota justru membawa risk . Ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar berpotensi menyebabkan keracunan, mual, hingga diare jika dikonsumsi. "Tidak disarankan untuk dikonsumsi," tegasnya, menegaskan bahwa public trust pada keamanan pangan harus tetap dijaga.
Data dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI menunjukkan, Jakarta Selatan menyumbang hasil tangkapan terbesar: 63.600 ekor dengan berat 5,3 ton. Wilayah lain seperti Jakarta Timur, Pusat, Utara, dan Barat juga turut serta dalam operasi yang menyasar 32 titik berbeda. Laporan ini memperlihatkan upaya terkoordinasi yang tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga respons langsung terhadap praktik ilegal di sektor makanan.
Ida menambahkan, Pemprov DKI perlu segera menentukan nasib ikan-ikan yang telah dimusnahkan agar tidak kembali masuk ke rantai konsumsi. Ia meyakini bahwa aksi bersih-bersih ini bisa menjadi awal dari change besar dalam pengelolaan ekosistem perkotaan. Namun, tantangan nyata tetap ada: bagaimana mencegah pedagang mencari alternatif murah yang justru membahayakan, dan apakah support dari masyarakat akan tahan lama saat tekanan ekonomi terus quickly berubah.
Jangan sampai ikan ini malah masuk pasar gelap. Risiko kesehatan terlalu besar kalau sampai lolos.
Baru tahu kalau ikan sapu-sapu dipakai buat makanan. Ini serius, public trust kepercayaan publik bisa runtuh kalau ternyata banyak yang sudah terpapar.
Solusi jangka panjang harus dibuat. Sekarang dibersihkan, tahun depan muncul lagi. Perubahan harus dari edukasi, bukan cuma razia.
Yang lebih penting, kenapa pedagang sampai nekat? Tekanan harga dan biaya operasional mungkin jadi pemicunya. Tekanan ekonomi itu nyata.
6,9 ton dalam sehari? Cepat sekali penyebarannya. Artinya, response respons juga harus cepat dan terus-menerus.
Harus ada report laporan transparan setiap bulan. Biar kita tahu apakah ini cuma pencitraan atau kerja serius.