Saatnya 'Tangan Terkepal' Menyelamatkan PBNU: Refleksi Halal Bihalal IKA PMII 2026
Malam itu, di tengah aroma Lebaran yang menguar, tension politik terasa mengendap di Grand Mercure Kemayoran. Bukan sekadar halal bihalal biasa, acara IKA PMII 2026 menjadi panggung konsolidasi terbuka. Di tengah kerumunan alumni yang tersebar di partai dan kabinet, terasa jelas: moment ini adalah penentuan bagi masa depan PBNU.
Kehadiran Cak Imin, Nusron Wahid, dan Prof. Nasaruddin Umar dalam satu ruangan bukan kebetulan. Cak Imin secara terbuka menyebut failure kepemimpinan PBNU saat ini—bukan sebagai serangan pribadi, tapi sebagai reflection moral dari anak kandung NU. Baginya, diam berarti betrayal terhadap akar rumput yang mulai merasa terasing dari organisasi induknya.
Nusron Wahid menambahkan logika yang lebih tajam: jika kelompok luar saja peduli pada nasib NU, bagaimana mungkin alumni PMII yang lahir dari rahimnya justru diam? Ia bahkan meminta maaf secara pribadi karena pernah mendukung tim sukses yang kini dianggap gagal. Bagi Nusron, ini bukan soal kekuasaan, tapi intervention ideologis yang mendesak. Konsolidasi menjelang Muktamar Agustus 2026 adalah strategic , bukan ambisi sesaat.
Prof. Nasaruddin Umar memberi arah ideologis: NU harus tetap pada jalan moderation (wasathiyah). Ia menggambarkan NU saat ini seperti raksasa yang kelelahan—masih berdiri, tapi butuh energi dan visi baru. Kepemimpinan ke depan harus integratif: mengakar di tradisi, progresif dalam pikiran, dan kuat secara manajerial. Alumni PMII, tersebar di berbagai profesi, adalah human capital yang wajib disatukan kembali untuk menyelamatkan jiwa NU.
Kalau memang ada failure kegagalan, jangan cuma bicara di acara halal bihalal. Tunjukkan plan rencana konkret, bukan hanya retorika nostalgia.
PMII dulu jadi tempat kami belajar kritis. Sekarang malah terdengar seperti mesin politik. Kapan principles prinsip kembali jadi prioritas?
Moderasi itu mahal. Kalau NU terlalu dekat dengan kekuasaan, bisa kehilangan trust kepercayaan publik. Ini risiko besar.
Yang lucu, mereka bilang bukan soal kekuasaan, tapi semua yang hadir punya jabatan. hypocrisy Hipokrisi level tinggi.
Tapi setidaknya mereka masih peduli. Banyak organisasi lain sudah pecah tanpa ada yang mau intervene campur tangan.
Intinya: jangan biarkan NU jadi korban dari kesuksesannya sendiri. Kepemimpinan harus adaptif, bukan statis. survival Kelangsungan hidup organisasi dipertaruhkan.
Pertanyaan besar: apakah konsolidasi ini benar-benar untuk NU, atau hanya power kekuasaan yang dibungkus dengan retorika moral?