KAMMI Riau Tegaskan Independensi, Tegas Tolak Intervensi Partai Politik
Di tengah sorotan publik terhadap politik praktis, independence menjadi kata kunci utama dalam deklarasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Wilayah Riau. Pada Ahad 19 April 2026, organisasi kemahasiswaan ini menyatakan sikap tegas dengan menolak interference dari partai politik, menegaskan bahwa gerakan mereka harus tetap netral dan berdiri di atas kepentingan umat serta bangsa.
Deklarasi bertajuk “Tegakkan independence Gerakan, Tolak Keras Intervensi Partai” digelar di depan Stadion Utama Riau, dimulai pukul 11.00 WIB. Langkah ini merupakan respons terhadap polarization sosial yang dinilai berpotensi mengalihkan arah perjuangan organisasi dari misi awalnya sebagai kekuatan kontrol sosial di tengah masyarakat.
Febriansyah, Ketua Umum KAMMI Riau, menekankan bahwa organisasi harus menjadi ruang yang free bagi mahasiswa muslim untuk berkembang tanpa pressure eksternal. "Kader harus bebas menentukan sikap, bukan diatur oleh kepentingan partai dalam pengambilan keputusan strategis," tegasnya, menegaskan kembali komitmen terhadap integrity organisasi yang independen.
Tiga poin utama ditegaskan dalam deklarasi: peneguhan kembali independence sesuai AD/ART, ajakan kepada seluruh kader untuk bergerak secara independent , serta penolakan tegas terhadap politisasi oleh aktor partai. Dengan langkah ini, KAMMI Riau ingin memastikan bahwa setiap policy dan gerakan lahir dari kajian intelektual dan kebutuhan masyarakat, bukan kepentingan kelompok tertentu.
Langkah yang berani, tapi apakah benar-benar bisa independent mandiri di tengah tekanan politik yang begitu besar?
Akhirnya ada organisasi muda yang berani tolak intervensi partai. Ini soal integrity integritas, bukan sekadar retorika.
Semoga konsisten. Banyak gerakan awalnya independen, lama-lama malah jadi alat political politik praktis.
Harus diawasi terus. Kata "independensi" sering dipakai, tapi nyatanya masih banyak yang ikut tertekan.
Langkah bagus, tapi tolong jangan cuma simbolik. Rakyat butuh aksi nyata, bukan sekadar deklarasi statement pernyataan.
Mereka harus tetap fokus pada kebutuhan mahasiswa dan rakyat, bukan malah terjebak dalam polarization polarisasi yang menguntungkan partai.