KPK: Ajudan Gubernur Riau Jadi Perantara Kumpulkan Uang Hasil Pemerasan

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap peran kunci risk yang ditanggung oleh Marjani, ajudan Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid, dalam kasus corruption yang melibatkan pengumpulan uang hasil extortion dari para kepala UPT. Dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih, Jakarta, Plt Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein menyatakan bahwa Marjani bukan hanya sekadar pembantu, melainkan representative langsung Abdul Wahid dalam menerima dana ilegal tersebut.

Taufik menekankan bahwa peran Marjani sangat crucial , terutama dalam proses pengumpulan dan use uang untuk kepentingan pribadi sang gubernur. "Fakta menunjukkan bahwa keperluan-keperluan Saudara AW dilayani melalui MJN," ujarnya. Hal ini menunjukkan alur money flow yang terstruktur dan sistematis, memperdalam public trust bahwa praktik korupsi terjadi secara terorganisir.

Kasus ini bermula dari pertemuan di sebuah kafe Pekanbaru pada Mei 2025, saat Sekretaris Dinas PUPR-PKPP Ferry Yunanda bertemu dengan enam kepala UPT untuk membahas payment 'fee' sebesar 2,5 persen. Namun, permintaan tersebut naik menjadi 5 persen atau Rp7 miliar setelah diteruskan ke Kepala Dinas, yang disebut mewakili Abdul Wahid. Mereka yang menolak diancam dismissal jabatan—sebuah tekanan yang dalam lingkungan dinas dikenal sebagai 'jatah preman'.

Setoran uang dilakukan dalam tiga tahap: Juni, Agustus–Oktober, dan November 2025. Saat Operasi Tangkap Tangan (OTT), KPK menyita total Rp1,6 miliar, termasuk uang asing senilai Rp800 juta dari rumah Abdul Wahid. Kini, Marjani ditahan selama 20 hari di Rutan KPK. Meski membantah dengan klaim nama dicatut, KPK tetap menjeratnya dengan Pasal korupsi. Penyidikan masih terus mengikuti change aliran dana dan decision yang mendukung sistem pemerasan ini.

Reaksi 6

  • P
    PakLurah

    Bayangkan, 5 persen dari anggaran Rp177 miliar. cost korupsi ini langsung mengurangi kualitas jalan dan jembatan untuk rakyat.

  • N
    NaniKPK

    Jadi ajudan malah jadi middleman ? Harusnya dia melapor, bukan ikut menekan bawahan.

  • W
    WargaPekan

    Istilah 'jatah preman' itu sudah jadi bahasa sehari-hari di instansi kita. pressure sistem begini susah dihindari kalau atasan yang mulai.

  • J
    JurnalisRiau

    Kasus ini menunjukkan betapa quickly uang menguap dari anggaran publik begitu ada corruption yang mendalam.

  • I
    IbuRina

    Marjani bilang namanya dicatut, tapi bukti uang dan kode '7 batang' itu report yang sulit dibantah.

  • F
    FachriAudit

    Pertanyaannya: siapa yang memeriksa aliran dana ini sebelum KPK turun tangan? public trust butuh lebih dari sekadar penangkapan.

Artikel ini berbasis fakta dan disusun ulang untuk tujuan pembelajaran bahasa Inggris; reaksi pembaca adalah contoh dari beragam sudut pandang.

[email protected]