Buku Ekonomi, Literasi, dan Harapan di Tengah Angka Rendah
Di tengah increasing minat baca yang belum diikuti oleh literacy yang memadai, Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara mengambil langkah nyata: membedah buku Prinsipil Ekonomi karya Ferry Irwandi. Kegiatan ini bukan sekadar perayaan World Book Day 2026, tetapi bagian dari misi lebih besar — membekali masyarakat dengan critical dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik. 'Ilmu ekonomi bukan lagi milik mahasiswa semata,' tegas Kepala Kantor Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, 'tapi kebutuhan semua lapisan masyarakat.'
Pemilihan buku ini sendiri bukan tanpa alasan. Dengan gaya bahasa yang simple dan pendekatan logika ekonomi yang mudah dicerna, Prinsipil Ekonomi dianggap cocok untuk generasi muda yang ingin memahami dasar-dasar economics tanpa merasa terbebani. Di balik buku, tersembunyi harapan besar: agar masyarakat bisa membuat keputusan lebih bijak dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mengatur budget keluarga hingga memahami kebijakan moneter secara dasar.
Namun fakta di lapangan masih menantang. Data BPS Sultra menunjukkan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) mencapai 58,64 di tahun 2025, tapi Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Februari 2026 masih terpuruk di angka 29,24 — kategori rendah. 'Ini membuktikan bahwa membaca bukan jaminan paham,' komentar Edwin. Oleh karena itu, BI Sultra tidak berhenti di diskusi. Mereka menyediakan perpustakaan fisik dan digital lewat aplikasi library iBi Library yang kini memiliki 7.052 koleksi, baik cetak maupun digital.
Upaya ini diperkuat dengan kolaborasi strategis: penandatanganan komitmen dengan Balai Bahasa Provinsi Sultra dan kerja sama pendidikan kebanksentralan bersama lima perguruan tinggi. Tahun 2026, 330 mahasiswa menerima education dari BI, naik 32 persen dari tahun sebelumnya. Mereka akan bergabung dalam komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI), yang dirancang menjadi agent dan garda depan kebijakan BI di masyarakat. Langkah ini bukan sekadar filantropi, tapi investasi jangka panjang dalam pemberdayaan ekonomi berbasis literasi.
Akhirnya ada yang peduli sama literacy literasi lokal. Bukan cuma Jakarta yang dapat perhatian.
Buku ekonomi dengan bahasa sederhana? Itu yang selama ini dibutuhkan. Tapi apakah benar-benar mudah dimengerti atau cuma klaim?
Alhamdulillah dapat bantuan dari BI tahun ini. Sekarang bisa fokus kuliah tanpa mikirin tuition biaya.
Aplikasi iBi Library keren, tapi jaringan di pelosok Sultra masih unstable tidak stabil. Harus ada solusi untuk itu.
Langkah bagus, tapi jangan cuma seremonial. Harus ada evaluasi berkala apakah program benar-benar berdampak.
Anak saya ikut lomba resensi. Sekarang jadi rajin baca, bahkan ngajak saya diskusi soal inflasi. Lucu tapi mengharukan.
Angka 29,24 untuk IPLM itu sangat rendah. Artinya, banyak yang baca tapi nggak paham isi. Ini masalah besar.
Kolaborasi dengan kampus penting. Tapi jangan lupa dosen juga butuh pelatihan agar bisa menyampaikan ekonomi secara mudah diakses.