Eks Ketum GMKI: Jusuf Kalla Tokoh Perdamaian, Jangan Dipolitisasi
Korneles Galanjinjinay, mantan Ketua Umum GMKI periode 2018–2020, angkat suara menanggapi kritik terhadap Jusuf Kalla, dengan menegaskan bahwa public trust terhadap figur tersebut harus didasarkan pada rekam jejak nyata, bukan narasi yang dipotong dari konteksnya. Ia menilai bahwa tuduhan yang muncul tidak berdasar dan justru mengabaikan peran penting JK dalam proses peace nasional yang telah terbukti.
Dalam pernyataannya kepada matakita.co pada 13 April 2026, Korneles menekankan bahwa report tentang pernyataan JK harus dibaca secara utuh, terutama dalam konteks penyelesaian konflik di Ambon, Poso, dan Aceh. Menurutnya, pengalaman empirik JK bukan sekadar narasi politik, melainkan historical fact yang patut dihargai sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan bangsa.
Sebagai putra Maluku, Korneles mengungkapkan personal connection terhadap proses damai di tanah kelahirannya. Ia menegaskan bahwa tanpa intervensi JK, Maluku mungkin masih terperangkap dalam lingkaran kekerasan. Risiko konflik berkepanjangan, kata dia, sangat nyata jika tidak ada tokoh yang mampu menengahi dengan dialog yang inklusif dan tenang.
Korneles juga meminta agar ceramah JK yang kini dipersoalkan tidak dipolitisasi secara sempit. Apa yang disampaikan, menurut dia, adalah social fact , bukan bentuk penghinaan terhadap kelompok agama tertentu. Ia menilai warisan terbesar JK adalah semangat rekonsiliasi yang harus dijaga, terutama di tengah pressure sosial dan potensi change yang cepat dalam dinamika politik saat ini.
Setuju, jangan selalu bawa-bawa narasi lama untuk political gain keuntungan politik. Rekam jejak JK jelas di bidang perdamaian.
Tapi bukannya ceramah itu bisa ditafsirkan dua arah? Risiko salah paham tetap ada, apalagi di media sosial.
Anak Maluku bicara begini, kita harus dengar. Dia tahu betul impact dampak damai itu seperti apa.
Fakta atau bukan, yang penting sekarang public trust kepercayaan publik sudah goyah. Itu yang sulit diperbaiki.
Politik memang selalu cari celah. Tapi jangan sampai peace perdamaian jadi korban hanya karena beda pandangan.
Pernah ke Poso tahun lalu. Suasana tenang sekarang. Bayangin kalau dialog dulu gagal. Bisa kacau.