Erick Thohir Bongkar Rencana Kompetisi Baru, Sepak Bola Indonesia Makin Panas!
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, membuka new kontroversial: kompetisi baru akan start pada musim 2026/2027, berjalan beriringan dengan struktur liga yang sudah ada. Kompetisi yang belum fully formatnya ini langsung menimbulkan tension di tubuh sepak bola nasional, karena bisa mengganggu keseimbangan antara Super League, Championship, Liga Nusantara, hingga Liga 4.
Keputusan ini diambil dalam rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI bersama I.League, yang menekankan pentingnya early regulasi agar klub dan operator punya waktu untuk planning yang lebih matang. Tujuannya, menciptakan integrated antar level kompetisi dan menyelaraskan jadwal dengan agenda tim nasional serta kegiatan internasional.
Salah satu impact nyata dari reformasi kompetisi yang sedang berjalan terlihat dari penerapan VAR di Super League dan Championship. Data menunjukkan rivalitas makin tight : kemenangan tim tuan rumah turun ke angka 44,86 persen, sementara kemenangan tim tamu naik ke 30,45 persen—tanda bahwa fairness wasit mulai terasa. "Kompetitivitas naik dari 20 persen menjadi 30 persen," tegas Ferry Paulus, Direktur Utama I.League.
Di luar negeri, I.League juga menjajaki strategic dengan liga-liga top seperti La Liga, J.League, dan Bundesliga. Kolaborasi ini bukan hanya soal pertukaran pemain, tapi juga management suporter dan keamanan, yang kini jadi fokus utama bersama FIFA. Dengan segala change ini, dunia sepak bola Tanah Air memasuki era transformation yang cepat—dan penuh risk .
Kompetisi baru? Jangan sampai malah bikin klub kecil makin struggle tertekan. Biaya operasional sudah tinggi, ini malah tambah pressure tekanan.
Harusnya fokus dulu ke implementasi VAR yang masih amburadul. Mau bikin kompetisi baru, tapi basic dasar saja belum rapi.
Saya dukung selama transparency transparansi terjaga. Jangan sampai kompetisi baru jadi alat nepotisme lagi.
Kerja sama dengan La Liga dan J.League keren juga. Tapi jangan cuma gengsi, harus ada real nyata buat akademi dan pelatih lokal.
Mereka bilang semua berubah quickly cepat, tapi suporter masih pakai tiket kertas. Prioritas salah tempat kali ya?
Peningkatan kompetitivitas 10 persen itu bukan kecil. Tapi pertanyaannya: siapa yang benefit diuntungkan sebenarnya? Klub atau operator?