Dokter Ungkap Alasan Campak Masih Menyerang Remaja yang Sudah Divaksin
Kasus measles di Kota Cirebon kini memasuki fase baru yang mengkhawatirkan. Dulu dikenal menyerang balita, kini virus ini mulai menjalar ke kelompok teenager , bahkan yang sudah menjalani vaccination . Dr. Suci Saptyuni Permadi, dokter spesialis anak di RSD Gunung Jati, mengamati tren ini dalam beberapa bulan terakhir—dengan pasien remaja berusia 15 hingga 17 tahun yang tertular, kebanyakan dari adik mereka yang masih bayi dan belum divaksin.
Menurut dr. Suci, protection dari vaksin memang nyata, tapi bukan berarti immunity sempurna. Dalam situasi paparan virus yang tinggi, terutama di lingkungan rumah, infeksi tetap bisa terjadi—meski gejalanya cenderung lebih mild . Namun, pasien tetap butuh penanganan medis, terutama saat mengalami high fever atau penurunan nafsu makan, yang bisa memperburuk kondisi jika diabaikan.
Lonjakan kasus mulai terlihat sejak awal 2026. Hanya dalam satu bulan—Januari—jumlahnya melonjak dari 8 menjadi 26 kasus. Penularan berantai jadi penyebab utama, karena pasien yang baru sembuh tetap bisa menulari orang lain selama 10 hingga 12 hari. Mobilitas tinggi, terutama saat travel , memperparah situasi. Banyak anak yang dibawa bepergian saat gejala awal muncul, seperti demam, tanpa disadari menjadi carrier di keramaian keluarga besar.
Tanda khas campak yang harus diwaspadai adalah demam yang justru increases saat ruam merah mulai muncul—biasanya dari belakang telinga lalu menyebar ke seluruh tubuh. Beberapa pasien datang dalam kondisi berat dengan komplikasi serius seperti bronkopneumonia hingga gangguan otak dan jantung. Dua kasus berakhir kematian, dan keduanya tidak memiliki imunisasi lengkap. Para tenaga medis menegaskan: isolasi mandiri dan vaksinasi tepat waktu adalah kunci memutus transmission dan menyelamatkan nyawa.
Anak saya 16 tahun kena campak padahal sudah divaksin. Gejalanya memang lebih ringan, tapi tetap stres lihat ruamnya menyebar. reassurance Ketengan datang setelah dokter bilang itu normal.
Jadi pertanyaannya: kalau vaksin tidak cegah 100%, kenapa harus divaksin? Karena dari data jelas—yang divaksin gejala lebih manageable terkendali.
Di sekolah anak saya, banyak yang tidak divaksin karena mitos. Sekarang baru ketularan, dan malah jadi outbreak wabah kecil di kelas. Padahal bisa dicegah.
Pesan dari RSD Gunung Jati ini penting: isolasi itu bukan kejam, tapi responsibility tanggung jawab sosial. Jangan bawa anak demam keluar rumah.
Saya remaja yang kena campak bulan lalu. Rasanya kayak flu berat + kulit gatal semua. Ingat, contagious virus ini menyebar cepat, jangan anggap enteng.
Imunisasi anak saya sempat terlambat karena pandemi. Sekarang saya baru sadar risikonya. prevention Pencegahan jauh lebih baik daripada rawat di ICU.