Kemenkes tingkatkan komunikasi publik untuk dorong vaksinasi campak
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kini memperkuat public communication untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya vaccination dalam mencegah penyebaran penyakit measles . Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa edukasi tidak lagi hanya bergantung pada dokter, tetapi juga melibatkan tokoh-tokoh yang mampu menyampaikan pesan dengan bahasa yang lebih sederhana, terutama di social media .
Menkes menekankan bahwa campak adalah penyakit dengan transmission rate sangat tinggi, terutama di kalangan anak-anak. Peningkatan kasus sering terjadi pada periode awal tahun, ketika mobility masyarakat naik dan anak-anak kembali bersekolah. Menurutnya, vaccination tetap menjadi intervensi paling efektif untuk mengendalikan penyakit menular—bukti nyata terlihat saat kasus COVID-19 turun setelah vaksinasi masif.
Namun, selama pandemi, coverage vaksinasi campak sempat menurun karena fokus pemerintah teralihkan. Akibatnya, banyak anak melewatkan jadwal immunization . Menkes mengakui hal ini menjadi celah bagi penularan, sekaligus mengakui adanya tantangan lain: public trust , terutama soal status halal vaksin. "Golongan yang tidak percaya ke vaksinasi itu besar sekali," katanya.
Untuk menanggulanginya, selain memperkuat komunikasi, pemerintah juga melancarkan Outbreak Response Immunization (ORI) di daerah dengan kasus tinggi. Program ini memberikan vaksin kepada semua anak tanpa kecuali guna break transmission . Hasilnya mulai terlihat: saat cakupan imunisasi naik, jumlah kasus campak langsung decline .
Saya setuju libatkan tokoh media sosial, tapi pastikan mereka paham betul soal vaccine safety keamanan vaksin, bukan cuma cari engagement.
Anak saya sempat terlambat vaksin karena takut ke puskesmas waktu pandemi. Sekarang baru mulai catch-up mengejar.
Masalahnya bukan cuma komunikasi, tapi juga access akses di daerah terpencil. Harus ada outreach layanan jemput bola juga.
Setiap kali ada outbreak wabah, baru heboh. Padahal prevention pencegahan jauh lebih murah.
Kalau soal halal-haram, kenapa tidak libatkan langsung religious leader tokoh agama dari awal? Biar tidak jadi misinformation misinformasi.
ORI itu bagus, tapi apakah keberlanjutannya terjamin? Jangan cuma responsif.
Kemarin di desa tetangga ada anak kena campak, panas tinggi dan ruam parah. Harusnya ini jadi warning peringatan buat semua.