281.984 Anak di Aceh Tak Diimunisasi, Dinkes Waspadai Lonjakan Kasus Campak
Lebih dari 281.984 anak di Aceh tidak menerima complete imunisasi selama lima tahun terakhir, menurut report Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh. Angka ini mencakup anak-anak dari usia bayi hingga lima tahun yang sama sekali tidak memiliki record imunisasi, membuat mereka sangat rentan terhadap penyakit menular seperti campak. Kondisi ini memicu warning dini dari otoritas kesehatan setempat yang khawatir terjadi surge kasus dalam waktu dekat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh, dr Iman Murahman, menyatakan bahwa ketidakmauan orang tua menjadi primary di balik rendahnya cakupan imunisasi. Banyak orang tua merasa fear terhadap side effects , terutama karena kurangnya pemahaman akan benefits vaksinasi. "Kekhawatiran mereka lebih besar daripada pengetahuan tentang perlindungan yang diberikan," katanya, menekankan bahwa misinformation terus menjadi hambatan besar bagi tenaga kesehatan.
Tiga wilayah menjadi sorotan karena jumlah anak tidak diimunisasi paling tinggi: Kabupaten Pidie dengan 34.182 anak, diikuti Aceh Utara dengan 31.491 anak, dan Bireuen dengan 30.302 anak. Daerah-daerah ini kini menjadi priority utama dalam kampanye imunisasi, meskipun tantangan logistik dan public trust tetap menjadi hambatan yang sulit diatasi. Upaya outreach aktif sedang digencarkan untuk mengejar ketertinggalan.
Dampak langsung dari minimnya imunisasi sudah terlihat: rata-rata lima ribu kasus campak terjadi setiap tahun di Aceh, dan pada tiga bulan pertama 2026 saja, jumlahnya mencapai 724 kasus. Sebagian besar penderita berasal dari kelompok anak yang tidak divaksinasi. Secara nasional, Aceh berada di peringkat ke-37 dari 38 provinsi dalam cakupan imunisasi anak, menunjukkan urgent need untuk intervensi yang lebih kuat dan strategi edukasi yang lebih efektif.
Angka 281 ribu itu bukan kecil. Ini risk risiko besar buat kesehatan masyarakat, apalagi kalau sistem kesehatan daerah sudah tertekan.
Saya paham ada yang takut efek samping, tapi justru anak yang tidak divaksin lebih vulnerable rentan. Harusnya sosialisasi lebih gencar, bukan disalahkan terus.
Di desa saya, bidan harus jalan kaki ke rumah-rumah karena banyak yang menolak datang ke posyandu. Ini soal access akses dan kepercayaan, bukan cuma informasi.
Lonjakan campak bukan ramalan, tapi tak terhindarkan kalau imunisasi tidak segera diperbaiki. Kita sedang menunggu waktu.
Prioritas di Pidie, Aceh Utara, Bireuen? Bagus, tapi jangan lupa daerah kecil yang juga terlantar. Jangan sampai ada anak yang left behind tertinggal.
Pemerintah pusat harus turun tangan. Kalau hanya andalkan Dinkes daerah, response respons akan selalu lambat dan tidak merata.