Saham Bank Masih Alami Tekanan Jual Asing
Investor asing terus menunjukkan pressure jual di pasar saham Indonesia, dengan saham bank besar kembali menjadi sasaran utama pada perdagangan Kamis (16/4/2026). Data perdagangan menunjukkan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp982,3 miliar secara keseluruhan. Meskipun angka ini sedikit lebih rendah dibanding hari sebelumnya, fokus penjualan tetap mengarah pada emiten perbankan raksasa, menandai risk sentimen negatif yang masih membayangi sektor finansial.
Bank Central Asia (BBCA) mencatat net foreign sell terbesar sebesar Rp369 miliar, diikuti Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan Rp302,5 miliar dan Bank Mandiri (BMRI) sebesar Rp160 miliar. Namun, market bereaksi berbeda terhadap ketiganya: saham BBRI justru naik 0,29% meski dibanjiri aksi jual, sementara BBCA dan BMRI terkoreksi masing-masing 0,38% dan 0,22%. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tekanan asing tidak selalu berbanding lurus dengan pergerakan price saham.
Tekanan jual juga merembet ke sektor energi dan komoditas seperti BUMI, ADMR, dan ANTM, menandakan belum adanya change signifikan dalam aliran modal asing ke sektor tersebut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ditutup melemah tipis 0,03% di level 7.621,38, setelah sempat menguat di awal perdagangan. Fluktuasi tajam terjadi sepanjang hari, dengan IHSG sempat menyentuh 7.705 namun anjlok ke 7.575 sebelum rebound quickly menjelang penutupan.
Di tengah tekanan tersebut, aktivitas perdagangan tetap ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp17,88 triliun dan volume 37,19 miliar saham. Kapitalisasi pasar berada di kisaran Rp13.584 triliun. Menariknya, kenaikan saham Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) yang melonjak 15,27% menjadi penopang utama IHSG, memberikan kontribusi 8,64 poin. Gerak ini menunjukkan bahwa meski ada public trust terhadap saham sektor tertentu, tekanan makro dari asing masih mendominasi decision investor besar.
Net sell asing memang selalu bikin pressure tekanan, tapi anehnya BBRI bisa naik. Apa ada support dukungan dari investor lokal yang kuat ya?
Lihat saja polanya tiap kuartal, saham bank besar selalu jadi korban pertama saat asing keluar. Ini bukan soal risk risiko bisnis, tapi likuiditas global.
Harga saham BBCA turun padahal fundamental kuat. Jelas ini bukan pasar yang sehat, lebih ke panic panik ikut-ikutan.
IHSG sempat hijau tapi langsung merah lagi. Artinya, market pasar masih rapuh, dan change perubahan arah belum terjadi.
SRAJ naik 15%? Itu bukan report laporan kuartalan biasa, pasti ada sentimen spesifik. Tapi tetap, satu saham tak bisa selamatkan seluruh market pasar.
Kalau asing terus jual dan lokal belum beli besar-besaran, kapan tekanan ini berhenti? Kita butuh trust kepercayaan yang lebih dari sekadar harapan.