Dari Ketinggian ke Jurang: Dua Musim Oxford United yang Gagal Bertahan

Mimpi promotion ke kasta tertinggi kedua Liga Inggris berakhir dalam kekecewaan. Oxford United, klub yang dinaungi oleh Ketua PSSI Erick Thohir, resmi terdegradasi ke League One setelah dua musim singkat bersaing di Championship. Meski menang 4-1 atas Sheffield Wednesday di Kassam Stadium, angka 47 yang mereka kumpulkan tak cukup untuk menyelamatkan muka. Empat poin dari zona aman, dan hanya satu laga tersisa — matematika tak lagi bersahabat. The Yellow, julukan klub berwarna kuning menyala ini, harus rela kembali ke kasta ketiga, meninggalkan panggung yang baru saja mereka injak dengan penuh harap.

Dua musim lalu, Oxford United merayakan promotion setelah menjuarai babak play-off League One, mengakhiri 25 tahun penantian. Saat itu, mereka finis di posisi kelima dengan 77 poin, lalu menang dramatis atas Bolton di final. Musim pertama di Championship, mereka bertahan di peringkat 17 — cukup impresif untuk tim newcomer . Tapi musim ini, inkonsistensi menggerogoti performa: tiga kekalahan beruntun di awal, pelatih Garry Rowett dipecat, dan Matt Bloomfield ditunjuk Januari 2026. Hasilnya? Tetap struggle . Hanya 11 kemenangan dari 45 laga, dan angka 6,26 sebagai rata-rata rating pemain terendah di skuad seperti Ole Romeny.

Dalam suasana suram, ada yang tetap angkat suara. Matt Bloomfield menyatakan diri responsible atas kegagalan ini. "Saya sangat ingin memberi pendukung kami sesuatu untuk disambut di akhir pekan," katanya, dikutip dari BBC. Bagi Sam Long, bek yang sudah membela klub sejak 2013, ini adalah luka dalam. Ia menyebut fans layak dapat yang lebih baik. Namun pesannya jelas: tetap bersatu. Di tengah kegagalan, semangat unity jadi satu-satunya harapan untuk bangkit. Bagi klub milik konsorsium internasional, ini ujian kepemimpinan, bukan cuma kualitas squad .

Bagi Indonesia, ada dua nama yang menyimpan harap: Ole Romeny dan Marselino Ferdinan. Lino lebih dulu datang dari Belgia, tapi minim menit dan akhirnya dipinjamkan ke klub Slovakia, AS Trencin. Romeny, yang didatangkan Januari 2025, sempat bersinar dengan satu gol dari 14 laga. Tapi musim ini, cedera menghantui sejak pramusim. Ia hanya main 356 menit, dua kali jadi starter, tanpa gol atau assist. Namun dalam kekalahan, ia tetap bersuara: "Terima kasih atas dukungan luar biasa kalian. Tetap semangat, Yellows!" — pesan singkat yang penuh wibawa dari sang defender .

Degradasi bukan akhir dunia, tapi pukulan keras. Oxford United kini harus membangun ulang identitas di League One, kompetisi yang dulu mereka tinggalkan dengan pride . Dengan kepemilikan Erick Thohir yang semakin kuat, pertanyaannya bukan apakah mereka bisa kembali, tapi bagaimana? Apakah mereka akan jadi tim yang bangkit seperti Fulham dulu, atau terjebak dalam cycle turun-naik tanpa tujuan? Satu hal pasti: petualangan belum selesai, hanya berpindah babak.

Reaksi 8

  • B
    bola_kampung

    Dari promosi ke degradasi cuma dua musim? Kayak naik rollercoaster emosional beneran.

  • L
    liverpool_fan99

    Matt Bloomfield harusnya diberi waktu lebih. Tapi kenyataannya, di Championship, patience itu mewah.

  • I
    ibu_ole

    Anak saya dukung Romeny sejak di Liga 1. Sekarang sedih lihat dia cedera terus. Semoga cepat pulih, Nak.

  • T
    thohir4life

    Erick Thohir punya uang, tapi butuh visi jangka panjang, bukan cuma ambisi cepat.

  • F
    fifaliana

    Lino di pinjam ke Slovakia? Terus kapan mainnya? Jangan sampai karatan.

  • Y
    yellow_army

    Kami turun kasta, tapi bukan berarti semangat ikut turun. Kassam Stadium tetap panas!

  • S
    stat_junkie

    47 poin dari 45 laga. Artinya rata-rata point per laga di bawah 1.1. Itu kuburan bagi tim Championship.

  • C
    cewek_bola

    Sam Long bilang fans layak dapat yang lebih baik. Nah, itu yang bikin saya makin cinta klub kecil kayak Oxford.

Artikel ini berbasis fakta dan disusun ulang untuk tujuan pembelajaran bahasa Inggris; reaksi pembaca adalah contoh dari beragam sudut pandang.

[email protected]