Revolusi Layanan Kesehatan di Banyumas, Warga Cukup Bawa KTP ke Faskes
Warga Banyumas kini bisa mendapatkan treatment tanpa hambatan finansial atau administratif. Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, memberikan instruksi tegas kepada seluruh healthcare untuk tidak menolak pasien hanya karena masalah biaya atau dokumen.
Dalam rapat koordinasi terkait Universal Health Coverage (UHC) Non Cut-Off, Bupati menegaskan bahwa warga cukup membawa ID card untuk langsung mendapatkan layanan. "Tidak ada alasan masyarakat tidak punya duit lalu ditolak atau dimintai uang. Cukup bawa E-KTP, layanan harus diberikan," tegasnya. Kebijakan ini mempercepat akses bagi kelompok low-income tanpa harus menunggu masa aktivasi berkepanjangan.
Pemerintah Kabupaten Banyumas menunjukkan komitmen nyata dengan mengalokasikan dana sebesar Rp105 miliar dari APBD 2026 untuk menjamin keberlangsungan program UHC. Saat ini, kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Banyumas sudah mencapai 98 persen, dengan active peserta di atas 80 persen. Target utama adalah memastikan semua faskes patuh dan data terintegrasi melalui satu identitas saja.
Bukan hanya soal gratis, Bupati juga menekankan pentingnya quality . Rapat koordinasi ini menjadi momentum untuk menyamakan persepsi antara rumah sakit, klinik, dan puskesmas. Dengan strict dan anggaran yang kuat, Banyumas semakin dekat mewujudkan kesehatan sebagai hak dasar, bukan luxury .
Akhirnya! Selama ini banyak pasien datang terlambat karena takut biaya. Sekarang dengan bawa KTP saja langsung bisa treatment diperiksa, ini lompatan besar.
Bagus sih, tapi tolong pastikan puskesmas desa juga kebagian dana. Jangan sampai cuma rumah sakit kota yang dapat benefit manfaat.
Tapi kalau sistem integrasi datanya masih lambat, ID card E-KTP sekadar formalitas. Harus diuji di lapangan.
105 miliar dari APBD? Itu bukan angka kecil. Tapi accountability akuntabilitas harus ketat, jangan sampai bocor.
Yang penting jangan cuma jadi wacana. Setiap faskes harus benar-benar comply mematuhi aturan ini, bukan sekadar janji.
Seneng dengernya. Kesehatan bukan luxury kemewahan lagi, tapi hak semua orang. Semoga bisa dipertahankan.
Saya dukung penuh, tapi tenaga medis dan obat harus cukup. Jangan sampai layanan cepat tapi quality kualitas turun.
Langkah ini bisa jadi model pola bagi daerah lain. Semoga tidak hanya jadi proyek seremonial.