Dari Dipecat ke Puncak Rasa: Kisah Bakhrani dan Restoran Pakistan-Amerika yang Mengguncang NYC
Dari dipecat dua kali hingga meraih success lewat dapurnya sendiri—Bakhrani, koki dan pengusaha asal Devon, kini memimpin restoran Nishaan di East Village, New York, yang menyajikan perpaduan unik antara masakan Amerika dan Pakistan. Restoran ini bukan hanya tempat makan, tetapi juga cerminan dari identitasnya: seorang imigran yang tumbuh di tengah keberagaman rasa, mulai dari India hingga Meksiko. Kebebasan berkreasi di dapur menjadi core dari seluruh konsep Nishaan.
Bakhrani mengatakan bahwa di dunia restoran miliknya, ide bisa berubah menjadi hidangan dalam hitungan days . "Di sini, saya punya ide, saya bisa menyelesaikannya dalam seminggu," ujarnya. Ia mencontohkan sandwich chapli kebab—daging cincang berbumbu dengan saus tomat, mayones, dan saus lain di atas roti putih—sebagai bentuk ekspresi penuh tanpa rules . Bahkan saus spaghetti instan bisa ditingkatkan rasanya dengan bawang, cabai, dan biji ketumbar.
Menu andalan seperti keju cincang Pakistan menjadi simbol dari perpaduan budaya: daging kebab, paprika hijau, bawang bombay, keju pepper jack, dan keju Amerika, ditumpuk di roti lapis dengan mayones, chutney asam jawa, dan saus jeruk nipis ketumbar. Minuman mangga bersoda dan kue corong paratha cokelat Dubai melengkapi pengalaman kuliner yang tak biasa. "Saya orang Pakistan, saya orang Amerika. Saya akan merangkul sebagian dari keduanya," kata Bakhrani, menegaskan filosofi identity yang menjadi dasar bisnisnya.
Perjalanan ini tidak mulus. Bakhrani sempat bekerja paruh waktu sambil mengembangkan merek Nishaan di pasar makanan seperti Smorgasburg. Kemenangan dalam acara Food Network 'The Great Food Truck Race' pada 2023 membawa timnya hadiah US$50.000—modal awal yang krusial. Dengan total biaya sekitar Rp1,19 miliar, restoran resmi dibuka pada Agustus. Dalam tiga bulan, pendapatan mencapai sekitar Rp2,39 miliar. Ironisnya, di bulan yang sama, ia dipecat—tapi kali ini, ia sudah tidak lagi membutuhkan pekerjaan itu.
Bayangkan kreativitas yang dilepas begitu saja dari korporat ke dapur. Di sini, freedom kebebasan benar-benar jadi bumbu utama.
Pakistani chopped cheese kedengarannya jadi game-changer terobosan di dunia sandwich. Mau coba cuma dengar deskripsinya aja sudah ngiler.
Dari dipecat jadi juara kompetisi, lalu buka restoran dalam hitungan bulan? Ini bukan cuma success kesuksesan, tapi juga bukti resilience ketangguhan.
Tapi biaya Rp1,19 miliar untuk restoran kecil di NYC... tekanan financial keuangan pasti sangat besar, apalagi setelah dipecat lagi.
Fakta bahwa dia menang di ajang TV lalu langsung buka toko—ini menunjukkan betapa cepatnya change perubahan bisa terjadi kalau ada peluang dan keberanian.
Yang paling mengena: "tidak pernah ada aturan". Di dunia kreatif, kadang risk risiko justru jadi resep terbaik.