Kronologi Dugaan Pelecehan Seksual Katy Perry terhadap Ruby Rose
Dugaan sexual harassment yang melibatkan penyanyi pop global Katy Perry dan aktris Ruby Rose kini memasuki ranah hukum, setelah pihak berwenang Australia mengonfirmasi adanya penyelidikan resmi. Insiden yang disebut terjadi pada 2010 di klub malam Spice Market, Melbourne, diungkap ulang oleh Ruby Rose secara terbuka di media sosial awal April 2026, memicu gelombang reaksi dari publik dan dunia hiburan. Kepolisian Victoria menyatakan bahwa kasus ini ditangani oleh Tim Investigasi Pelanggaran Seksual dan Pelecehan Anak Melbourne (SOCIT), meski tidak memberikan detail lebih lanjut karena proses investigation masih berjalan.
Dalam unggahan di Threads, Ruby Rose menceritakan bahwa saat itu ia sedang bersandar di pangkuan temannya untuk menghindari Perry, namun sang penyanyi justru mendekat, menarik celana dalamnya ke samping, dan menggesekkan vaginanya ke wajah Rose—yang menyebabkan Rose muntah hingga mengenai tubuh Perry. Rose menyebut pengalaman itu sebagai momen traumatis yang ia simpan selama hampir 20 tahun, karena setelah kejadian, Perry diklaim menawarkan bantuan untuk mendapatkan visa AS, membuatnya merasa terpaksa merahasiakan insiden tersebut.
Rose, yang kini berusia 40 tahun, mengatakan butuh waktu hampir dua dekade untuk menemukan courage menyuarakan pengalamannya. Ia menekankan bahwa tujuannya bukan untuk melapor secara hukum, tetapi untuk melepaskan beban trauma yang telah lama menghantui. "Kamu tidak perlu orang lain memercayaimu, kamu hanya perlu mengeluarkan dari tubuhmu yang malang ini, sebelum itu menyebabkan kanker," tulisnya, menunjukkan emotional impact yang mendalam dari pelecehan seksual.
Pihak Katy Perry telah membantah seluruh tuduhan melalui perwakilan, menyebutnya sebagai kebohongan berbahaya yang tidak berdasar. Mereka juga menyinggung riwayat Rose yang kerap membuat serious claims secara publik yang kemudian dibantah pihak terkait. Namun, kisah ini tetap memicu diskusi luas tentang dinamika kekuasaan, trauma, dan bagaimana korban memilih untuk bersuara—atau diam—dalam industri hiburan yang sarat pressure dan pertimbangan karier.
Bayangkan harus menahan trauma selama 20 tahun demi visa. Ini menunjukkan betapa power imbalance ketimpangan kekuasaan bisa dimanfaatkan.
Tuduhan serius gini malah dibalik dengan menyerang karakter korban. Klise banget. Kepercayaan publik bakal menilai.
Yang paling menyedihkan itu dia muntah karena trauma, tapi malah diubah jadi 'cerita lucu saat mabuk'. Ngeri.
Kepolisian sudah turun tangan, jadi biarkan proses justice peradilan berjalan. Jangan vonis di media sosial.
Ini bukan soal fandom. Ini soal bagaimana industri protects melindungi pelaku atau korban. Rose berani, itu yang penting.
Kalau memang terjadi, ini lebih dari sekadar incident insiden. Ini kekerasan seksual dalam ruang publik.