Terungkap! Menantu di Kepahiang Gasak Uang Kopi Rp4,7 Miliar dengan Nota Palsu
Seorang menantu di Kabupaten Kepahiang membuat geger dengan menggelapkan uang hasil penjualan coffee milik mertuanya hingga mencapai Rp4,7 miliar. Tersangka, SF (36) alias A, diduga melakukan aksi ini secara berulang dengan modus pembuatan fake dalam setiap transaksi. Kepercayaan keluarga pun runtuh saat praktik terlarang ini terungkap.
Alih-alih menyetorkan hasil penjualan, tersangka justru berdalih bahwa pembeli belum melunasi payment . Alasan ini digunakan sebagai tameng untuk menutupi fraud yang terjadi di dalam usaha milik H. Darusalam, pengusaha kopi yang juga mertuanya sendiri. Modus ini berhasil membodohi sistem pencatatan untuk waktu yang cukup lama.
Berdasarkan pengakuan tersangka, terdapat sembilan transaction yang tercatat dengan alasan 'pembeli masih berhutang'. Namun keterangan itu dibantah oleh fakta bahwa receipt dibuat sendiri oleh pelaku. Pihak kepolisian, melalui Kanit Pidum Ipda Abdullah Barus, memastikan bahwa dokumen-dokumen ini kini diamankan sebagai evidence .
Penyidik juga sedang melakukan investigation untuk mengungkap total loss dan menelusuri money flow hasil kejahatan tersebut. "Kami masih melakukan tracking terhadap dana yang digunakan tersangka," tegas pihak kepolisian. Kasus ini menjadi peringatan keras tentang risk yang muncul ketika trust dikelola tanpa pengawasan ketat.
Bayangkan, uang segitu banyak bisa lenyap cuma karena satu orang. Ini bukan cuma soal loss kerugian finansial, tapi juga trust kepercayaan keluarga hancur.
Modus lama tapi selalu berhasil. Harusnya sistem pencatatan lebih ketat, jangan sampai ada satu orang yang pegang semua control kendali.
4,7 miliar dari kopi? Berarti harganya sedang naik atau volumenya sangat besar. Tapi tetap, ini fraud kejahatan terencana.
Menjadi menantu malah mengkhianati. Di mana moral dan rasa hormat?
Kasus seperti ini bisa dicegah dengan sistem digital sederhana. Nota otomatis, pembayaran tercatat, tidak ada ruang untuk fake nota palsu.
Polisi harus cepat telusuri aliran dananya. Jangan sampai uangnya sudah habis dipakai untuk hal yang tidak bisa dikembalikan.