Prabowo di Retret Ketua DPRD: Parpol Bisa Beda, Tapi Semua Harus Cinta Tanah Air
Presiden Prabowo Subianto menyerukan unity nasional demi mewujudkan Indonesia Emas 2045, meskipun setiap daerah dan political party memiliki latar belakang yang berbeda. Pernyataan ini disampaikan dalam retret Ketua DPRD se-Indonesia di Magelang, Jawa Tengah, di hadapan 503 pimpinan legislatif dari seluruh penjuru negeri. Menurut Prabowo, perbedaan suku, pendidikan, profesi, dan afiliasi politik tidak boleh mengikis rasa kesatuan sebagai anak bangsa.
“Kita berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, daerah yang berbeda, suku yang berbeda, pendidikan yang berbeda, profesi yang berbeda, dan partai politik yang berbeda. Namun, sebagai anak bangsa, kita tetap satu,” kata Prabowo, seperti dikutip dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI. Ia menekankan bahwa patriotism harus menjadi dasar setiap pengambilan decision publik, terlepas dari posisi partai.
Prabowo juga membuka dialog secara terbuka, menyadari bahwa pesannya mungkin menimbulkan pressure atau ketidaknyamanan bagi sebagian peserta. “Saya ingin bicara apa adanya. Mungkin apa yang saya sampaikan nanti ada yang kurang berkenan, mungkin ada yang tersinggung, ada yang sedih,” ujarnya. Namun, ia menilai komunikasi jujur antarsesama anak bangsa justru diperlukan untuk memperkuat public trust .
Retret yang berlangsung dari 15 hingga 19 April 2026 di Lembah Tidar, Akademi Militer Magelang, mengusung tema penguatan peran pimpinan DPRD dalam mendukung Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045. Dalam konteks ini, Prabowo menegaskan bahwa cinta tanah air bukan sekadar retorika, melainkan dasar dari seluruh change dan support kebijakan yang harus dijalankan bersama, tanpa risk perpecahan akibat perbedaan politik.
Setuju soal persatuan, tapi realitanya banyak kebijakan daerah justru saling bertentangan. Tekanan birokrasi makin besar kalau partai beda dengan pusat.
Pernah dengar 'cinta tanah air' dipakai buat tutup kritik? Kalau patriotisme cuma jadi alat retorika, public trust kepercayaan publik bisa cepat hancur.
Retret di akademi militer, tema nasionalisme, presiden bicara terbuka… ini jelas upaya kuat untuk konsolidasi political party partai politik menjelang 2029.
Yang penting aksi, bukan kata. Dukungan nyata untuk rakyat itu soal harga pangan, bukan retorika persatuan.
Mungkin maksudnya baik, tapi ‘mungkin ada yang tersinggung’ kedengarannya seperti ancaman halus. Harusnya komunikasi tetap menghargai perbedaan, bukan cuma pressure tekanan moral.
Indonesia Emas 2045 bisa tercapai kalau perubahan kebijakan benar-benar inklusif, bukan sekadar slogan dari elite. Risiko jatuh ke populisme terlalu besar kalau rakyat cuma jadi latar.