Warga Iran, DPR, hingga Dosen Ilmu Politik Soroti Wacana Akses Lintas Udara Militer AS di RI
Diskusi panas terjadi antara warga Iran, anggota DPR, dan dosen ilmu politik mengenai wacana akses lintas udara militer Amerika Serikat di Indonesia. Dalam program Kompas Petang di KompasTV, Kamis (16/4/2026), tiga narasumber dengan latar belakang berbeda menyampaikan concern dan analisis tajam soal dampak kebijakan potensial ini terhadap hubungan internasional dan national security .
Qasem Muhammadi, dosen asal Iran dari International Institute for Islamic Studies di Qom, menekankan bahwa move Indonesia membuka akses bagi militer AS pasti akan mengubah relationship dengan Iran. Ia menyebut dukungan Indonesia terhadap Palestina selama ini sebagai bukti sikap terhadap negara yang oppressed , tetapi justru akan terlihat kontradiktif jika Indonesia memihak AS dalam konfliknya dengan Iran. "Kalau ini terjadi, friendship kita bisa berakhir," tegasnya.
Di sisi lain, Syamsu Rizal, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PKB, menolak menyamakan kondisi Palestina dan Iran. Ia menilai konflik Palestina melibatkan negara yang direct support , sementara Iran dan AS adalah dua negara berdaulat dengan kekuatan seimbang. Ia menegaskan Indonesia tetap berpegang pada politik bebas aktif, meski mengakui pressure geopolitik saat ini sangat nyata.
Efatha Duarte, dosen Ilmu Politik Universitas Udayana, menambahkan bahwa Indonesia kini berada dalam posisi diplomatic maneuver yang rumit. Ia menyebut Indonesia dinilai terlalu condong ke AS, sehingga harus segera menentukan decision yang jelas. "Kita butuh kerja sama internasional, tapi tidak boleh mengorbankan public trust dan kredibilitas global," ujarnya.
Tekanan geopolitik memang naik, tapi jangan sampai national sovereignty kedaulatan nasional dikompromikan hanya karena tekanan dari satu negara.
Kalau kita dukung Palestina karena tertindas, lalu kenapa menerima militer AS yang justru dianggap penindas oleh banyak negara? Ini double standard standar ganda namanya.
AS pasti punya kepentingan besar di balik permintaan ini. Harus hati-hati, jangan sampai kita jadi bagian dari konflik yang bukan urusan kita. Risiko keamanan terlalu tinggi.
Diplomasi itu soal kepercayaan. Kalau kita terlihat ikut campur dalam konflik AS-Iran, international trust kepercayaan internasional bisa turun drastis.
Politik bebas aktif harus tetap jadi dasar. Tapi dalam praktiknya, selalu ada pressure tekanan dari kekuatan besar. Pertanyaannya, kita masih bebas nggak?
Ini bukan cuma soal izin terbang, tapi soal strategic decision keputusan strategis yang bisa mengubah arah hubungan luar negeri kita selama puluhan tahun ke depan.