BMKG Ungkap Puncak Musim Kemarau 2026: Agustus Jadi Titik Krisis, Ini Wilayah Paling Terdampak
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis prediction penting tentang puncak dry season 2026 di Indonesia. Menurut lembaga itu, puncak kemarau akan terjadi pada Agustus, dengan wilayah selatan garis khatulistiwa mengalami impact paling besar. Warga di daerah ini diminta bersiap menghadapi cuaca ekstrem yang berlangsung lebih lama dari rata-rata historis.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa musim kemarau mulai melanda secara bertahap sejak April hingga Juni, dengan sebagian besar wilayah mulai memasuki fase ini pada Mei. Proses ini dimulai dari timur Indonesia seperti NTT, NTB, dan Bali, lalu meluas ke pesisir Jawa, dataran tinggi Jawa, hingga Sumatera bagian selatan. Faisal menekankan bahwa kemarau tahun ini datang lebih cepat, sehingga durasinya lebih panjang dan kondisinya lebih kering dibanding climate average 30 tahun terakhir.
Fenomena El Nino diperkirakan muncul pada Juli dengan intensitas lemah hingga sedang, yang turut mendorong peak kemarau di bulan Agustus. Wilayah selatan khatulistiwa menjadi fokus utama karena menghadapi risk kekeringan yang lebih tinggi. BMKG juga mengidentifikasi enam provinsi dengan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) paling tinggi: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Meskipun musim kemarau, BMKG menegaskan hujan masih bisa turun, namun dengan intensitas rendah—tidak lebih dari 150 milimeter per bulan. Masyarakat diimbau tidak terkejut jika masih turun hujan di tengah kemarau, karena transition musim berbeda-beda per wilayah. Faisal juga menyampaikan bahwa Hari Raya Idul Adha kemungkinan jatuh saat sebagian besar wilayah sudah memasuki musim kemarau, meski ada yang baru mulai atau sedikit terlambat.
Kalau musim kemarau lebih panjang, petani bakal kena pressure tekanan berat. Air untuk sawah makin sulit, padahal harga pupuk juga belum stabil.
NTB dan NTT selalu jadi yang pertama kena dampak. Kenapa support dukungan dari pusat selalu datang telat?
El Nino lemah aja bisa bikin kemarau lebih kering dari biasanya? Ini tanda change perubahan iklim makin nyata.
BMKG sudah bagus prediksinya, tapi masyarakat butuh lebih dari sekadar report laporan. Harus ada sosialisasi yang lebih masif ke desa-desa terpencil.
Katanya kemarau, tapi kemarin masih hujan deras di Bogor. Jadi bingung, ini transisi atau cuaca unpredictable tak menentu?
Kalimantan Tengah masuk daftar risiko karhutla tertinggi lagi. Semoga tahun ini tidak seperti previous cases kasus sebelumnya yang asapnya sampai ke Malaysia.